by Dr. Adi Setia of Himpunan Keilmuan Muda (HAKIM)
The “kalam of the age” (kalam al-‘asr) is the systemic deconstruction of all the western sciences and their reconstruction from within the conceptual framework of the Worldview of Islam, by which, along the way, some of these sciences may be seen to be discardable altogether, while others reexamined, remodified, restructured and redirected to serve the higher purposes of the divine Law (Maqasid al-Shari‘ah), i.e., to serve the true purpose of our life as Muslims in this world.
Do not let our present preoccupation with the puerile, incoherent ramblings of the Wahhabis and the neo-Mu'tazilis divert us from drawing creatively from the profound lessons of traditional classical kalam to meet head on the real challenge of the age, the challenge of a subtle and sophisticated secularism, materialism and nihilism systemically imparted into minds and hearts of Muslim students, researchers and scholars in Western and Western-type universities.
This call of the kalam of the age is precisely the call which Shaykh Afifi al-Akiti and Dr. Hisham Hellyer are inviting us to heed in their jointly authored article, “The Negotiation of Modernity through Tradition in Contemporary Muslim Intellectual Discourse: The Neo-Ghazalian, Attasian Perspective,” in Wan Mohd Nor Wan Daud & Muhammad Zaini Uthman, eds., Knowledge, Language, Thought & the Civilization of Islam: Essays in Honor of Syed Muhammad Naquib al-Attas (Kuala Lumpur: UTM, 2010), pp. 119--134.
In light of this consideration, the study of the Ghazalian Tahafut and its creative re-articulation in contemporary philosophical, sociological and scientific terms, should be made fardu 'ayn on all who are studying, teaching, researching or practicing the western sciences. For the real intellectual battleground for Muslims in the modern age is not puerile neo-Wahhabism or neo-Mu’tazilism, but the neo-Dahrism of the western sciences which they all gleefully imbibe, including those who are right now sitting at the feet of the great living shuyukhs of our time in Syria, Jordan, Yemen, Morrocco, Tarim, Malaysia and India, drinking from the wellsprings of tradition.
They gleefully imbibe the western sciences without fathoming the subtle neo-Dahrism lurking within these sciences because they lack the conceptual framework to be able do so. And this “conceptual framework to be able do so” is the kalam of the age, and the mutakallimun of this age need to develop and elaborate it. When I say “gleefully,” it is the gleeful innocence and naivete of those who do not have a clue as to what they are actually imbibing as "education" or "knowledge" or "skills" in modern universities. Yes, gleeful, precisely because they are unwitting intellectual victims of that grand, elaborate charade called science, technology and economics. The Tabah Foundation nanotech “position paper” is one instance, another is a “sufi” biomedical friend who fail to see anything wrong with vivisection, or that one with his MBA studies and forthcoming Wall Street job, or the thousands teaching, researching and working in so-called Islamic Banking and Finance. At IIUM I can multiply these instances to the thousands by first hand experience.
The great task of these students and scholars is to approach these western sciences investigatively (tabayyun) by systemically constructing and elaborating a conceptual or intellectual framework through which the tradition can be brought to bear creatively and critically on the western sciences, or shall they go on allowing the tradition to be intellectually impotent and acquiescently silent in the face of an arrogant and aggressive neo-Dahrism? The fault then lies not within the tradition but within their own minds and hearts. What I say here is nothing new, for even the conscientious thinkers of the West are making this very same indictment of their own intellectual edifice (“wa shahiduu 'alaa anfusihim”) such as Heidegger, Serge Latouche, et al.
Knowing the tradition alone is not enough, for the carriers of this tradition must also know how to read the “situation of the age” (ahwal al-‘asr) that they may bring the former to bear creatively and critically on the latter, and thereby avoid falling into the pitfalls of nihilistic neo-Dahrism (call it evolution, progress, historicism, growth, development, whatever). I’m calling it neo-Dahrism, so we may be shocked to real intellectual and educational action and not reduce the kalam discourse to merely a means to whack the puerile Wahhabis; let them be childish with their silly ramblings, but we simply have to move on. The Wahhabis and the neo-Mu’tazilis are mosquitoes, and at times we have to really smack them, but the neo-Dahris are the real monsters, but where are our kalam champions to be called into mortal combat against these monsters?
The whole problem with neo-Dahrism is that it does not present itself to us as heresy and we don’t see it as such, but to see it as such is to revive the kalam jadid of the Ghazalian Tahafut and the Fakhrurazian Matalib. Failing to do so may not necessarily render us formal neo-Dahris (i.e., self-conscious believers in secular progress), but we’ll be neo-Dahris in practice all the same because the neo-Dahrist disciplines we imbibe in the universities present themselves to us as value-neutral objective truth, and we are gullible enough to accept that presentation, lock, stock and barrel. In brief the heresy of the age demands a kalam of the age to expose its true face to all thinking Muslims who care enough about reviving the tradition and organizing their personal, communal & civilizational life on it.
Showing posts with label Barat. Show all posts
Showing posts with label Barat. Show all posts
Oleh: Hamid Fahmi Zarkasyi*
DALAM suatu simposium di Tokyo saya bertemu dengan Angel Rabasa. Ia salah seorang peneliti pada Rand Coorporation, yaitu NGO yang memberi saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat (AS) bagaimana menumpas fundamentalisme dalam Islam pasca 11 September.
Di saat coffee break, ia sengaja menghampiri saya dan langsung “menembak”, “What is wrong with Ahmadiyah in Indonesia?” Saya katakan “ini adalah kasus penistaan agama (religious blasphemy)”. “Oh no, itu kan masalah kebebasan berpendapat……bla…bla…bla.
Memang ia banyak tahu tentang Indonesia dan bahkan seperti ingin ikut campur urusan umat Islam. Saya baru teringat tulisan David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars, “Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam”. Kelihatannya, Rabasa ditugaskan untuk proyek yang disebut David.
“Baik, kalau begitu bagaimana dengan keberatan umat Kristiani terhadap aliran Jehovah yang dianggap sesat?” tanya saya. Dia, yang berkulit putih itu menjadi sedikit memerah seperti menahan sesuatu. “Ya tapi orang Kristen tidak melaporkan kasus ini ke pemerintah”, jawabnya.
Di sini saya faham bahwa dia keberatan dengan campur tangan pemerintah dalam urusan agama. Tentu ini mindset yang tipikal orang Barat sekuler. Agama tidak boleh masuk ruang publik dan tidak boleh menyatu dengan kekuasaan, apapun bentuknya. Padahal, yang saya tahu, aliran Children of God (COG) dan Jehovah Witnesses dilarang Kejaksaan Agung atas permintaan Ditjen Bimas Kristen karena dianggap sempalan Kristen. Jika demikian itu juga berdasarkan laporan para penganut Kristen.
Tapi kemudian saya katakan, kalau Anda menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy ke masyarakat, akan mengakibatkan chaos, atau kegaduhan. Anda tahu sendiri bagaimana masyarakat main hakim sendiri terhadap penganut Ahmadiyah di daerah-daerah. Dan jumlah mereka cukup banyak. Dan perlu Anda tahu bahwa penganut Ahmadiyah sendiri menganggap siapa pun yang tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi adalah kafir. Jadi, bukan hanya umat Islam yang menganggap Ahmadiyah salah, tapi Ahmadiyah justru menganggap umat Islam selain mereka itu salah.
Rabasa ternyata tidak banyak tahu tentang kepercayaan Ahmadiyah. Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan. “Let’s talk something else,” katanya.
Blasphemy adalah istilah yang digunakan untuk penistaan agama di Barat. Kata blasphemy dalam Online Etymology Dictionary, © 2001 Douglas Harper disebut sebagai berasal dari bahasa Prancis, blasfemie; asalnya dari bahasa Latin blasphemia atau bahkan dari Yunani blasphēmein. Artinya irreligious, pernyataan, perkataan jahat atau menyakitkan, terkadang juga diartikan bodoh.
Secara definitif blasphemy adalah kejahatan menghina atau menista atau menunjukkan pelecehan atau kurang menghargai Tuhan, agama, ajarannya, serta tulisan-tulisan-tulisan mengenainya. Juga berarti sikap menghina terhadap sesuatu yang dianggap sakral. (Merriam-Webster's Dictionary of Law, © 1996). Menurut The American Heritage, blasphemy adalah aktivitas, pernyataan, tulisan yang merupakan penghinaan, irreligius, mengenai Tuhan atau sesuatu lainnya yang sakral.
Dalam the Random House Dictionary dan The American Heritage menganggap seseorang sebagai Tuhan atau mengaku memiliki kualitas seperti Tuhan termasuk blasphemy. Pengertian Easton Bible Dictionary (1897) bahkan lebih detail lagi. Blasphemy termasuk mengingkari adanya Roh Kudus, Bible, kemessiahan Jesus atau menganggap mukjizat Jesus itu sebagai kekuatan setan.
Hanya masalahnya, orang-orang liberal sekuler menuduh para pemeluk agama-agama telah membatasi kebebasan berpendapat. Agama, menurut mereka, menggunakan dalih blasphemy, penistaaan, bid’ah, musyrik, tabu dan sebagainya untuk membungkam pikiran mereka. Itu pun, dalam persepsi mereka, para agamawan hanya membatasi hak memahami agama pada otoritas keagamaan (ulama, pendeta, sami, dan sebagainya). Di sini agama menjadi buruk muka dan diposisikan sebagai pemasung kebebasan.
Inti masalahnya ada pada worldview masing-masing. Di Barat agama-agama memiliki alam pikirannya sendiri. Sejarahnya, memang selalu bentrok dengan masyarakat Barat, khususnya masyarakat ilmiah (scientific community).
John Milton, sastrawan dan penulis politik Inggris pernah bentrok dengan parlemen. Itu gara-gara brosur buatannya yang liar, tidak bertanggung jawab, tidak masuk akal dan ilegal. Tapi Milton membela diri. Katanya, kesatuan suatu bangsa diperoleh melalui gabungan pendapat individu yang berbeda ketimbang homogenitas yang dipaksakan. Kemampuan menggali ide-ide cemerlang diperlukan dan kebenaran tidak dapat dicapai kecuali dengan merujuk semua pendapat orang.
Jadi, bagi pemikir non-agama, kebenaran tidak harus melalui otoritas keagamaan. Milton bahkan menambahi pembelaannya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam kompetisi terbuka.
Tapi siapa yang akan menentukan sesuatu itu benar dan salah? Menurut Milton bukan individu, tapi gabungan pendapat individu-individu. Katakanlah kebenaran ditentukan oleh suara mayoritas. Sekilas orang bisa terima, tapi ternyata ini bermasalah. Sebab bagi Milton, meski mayoritas telah bersuara, setiap individu dibebaskan untuk menemukan kebenaran mereka sendiri-sendiri. Jadi teori Milton masih problematik, karena tidak ada standar kebenaran. Kebenaran itu tergantung pada individu masing-masing.
Kebebasan mencari dan menentukan kebenaran gaya Milton tetap saja akan memihak. Nah, tapi Noam Chomsky mencoba merumuskan begini: "Jika Anda percaya pada kebebasan berbicara, Anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak kau sukai." (If you're in favor of freedom of speech, that means you're in favor of freedom of speech precisely for views you despise). Tapi kenyataannya Stalin dan Hitler yang mengaku mendukung kebebasan berbicara, hanya mendukung pendapat yang mereka sukai saja.
Kembali ke soal blasphemy. Jika orang melakukan penistaan agama dengan dalih kebebasan berfikir dan berpendapat, maka rumus Milton perlu digunakan. Serahkan ketentuan benar dan salah pada suara mayoritas yang berilmu tentang itu. Bukan kepada individu tapi kepada komunitas, dan ini harus mengikat individu.
DALAM suatu simposium di Tokyo saya bertemu dengan Angel Rabasa. Ia salah seorang peneliti pada Rand Coorporation, yaitu NGO yang memberi saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat (AS) bagaimana menumpas fundamentalisme dalam Islam pasca 11 September.
Di saat coffee break, ia sengaja menghampiri saya dan langsung “menembak”, “What is wrong with Ahmadiyah in Indonesia?” Saya katakan “ini adalah kasus penistaan agama (religious blasphemy)”. “Oh no, itu kan masalah kebebasan berpendapat……bla…bla…bla.
Memang ia banyak tahu tentang Indonesia dan bahkan seperti ingin ikut campur urusan umat Islam. Saya baru teringat tulisan David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars, “Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam”. Kelihatannya, Rabasa ditugaskan untuk proyek yang disebut David.
“Baik, kalau begitu bagaimana dengan keberatan umat Kristiani terhadap aliran Jehovah yang dianggap sesat?” tanya saya. Dia, yang berkulit putih itu menjadi sedikit memerah seperti menahan sesuatu. “Ya tapi orang Kristen tidak melaporkan kasus ini ke pemerintah”, jawabnya.
Di sini saya faham bahwa dia keberatan dengan campur tangan pemerintah dalam urusan agama. Tentu ini mindset yang tipikal orang Barat sekuler. Agama tidak boleh masuk ruang publik dan tidak boleh menyatu dengan kekuasaan, apapun bentuknya. Padahal, yang saya tahu, aliran Children of God (COG) dan Jehovah Witnesses dilarang Kejaksaan Agung atas permintaan Ditjen Bimas Kristen karena dianggap sempalan Kristen. Jika demikian itu juga berdasarkan laporan para penganut Kristen.
Tapi kemudian saya katakan, kalau Anda menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy ke masyarakat, akan mengakibatkan chaos, atau kegaduhan. Anda tahu sendiri bagaimana masyarakat main hakim sendiri terhadap penganut Ahmadiyah di daerah-daerah. Dan jumlah mereka cukup banyak. Dan perlu Anda tahu bahwa penganut Ahmadiyah sendiri menganggap siapa pun yang tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi adalah kafir. Jadi, bukan hanya umat Islam yang menganggap Ahmadiyah salah, tapi Ahmadiyah justru menganggap umat Islam selain mereka itu salah.
Rabasa ternyata tidak banyak tahu tentang kepercayaan Ahmadiyah. Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan. “Let’s talk something else,” katanya.
Blasphemy adalah istilah yang digunakan untuk penistaan agama di Barat. Kata blasphemy dalam Online Etymology Dictionary, © 2001 Douglas Harper disebut sebagai berasal dari bahasa Prancis, blasfemie; asalnya dari bahasa Latin blasphemia atau bahkan dari Yunani blasphēmein. Artinya irreligious, pernyataan, perkataan jahat atau menyakitkan, terkadang juga diartikan bodoh.
Secara definitif blasphemy adalah kejahatan menghina atau menista atau menunjukkan pelecehan atau kurang menghargai Tuhan, agama, ajarannya, serta tulisan-tulisan-tulisan mengenainya. Juga berarti sikap menghina terhadap sesuatu yang dianggap sakral. (Merriam-Webster's Dictionary of Law, © 1996). Menurut The American Heritage, blasphemy adalah aktivitas, pernyataan, tulisan yang merupakan penghinaan, irreligius, mengenai Tuhan atau sesuatu lainnya yang sakral.
Dalam the Random House Dictionary dan The American Heritage menganggap seseorang sebagai Tuhan atau mengaku memiliki kualitas seperti Tuhan termasuk blasphemy. Pengertian Easton Bible Dictionary (1897) bahkan lebih detail lagi. Blasphemy termasuk mengingkari adanya Roh Kudus, Bible, kemessiahan Jesus atau menganggap mukjizat Jesus itu sebagai kekuatan setan.
Hanya masalahnya, orang-orang liberal sekuler menuduh para pemeluk agama-agama telah membatasi kebebasan berpendapat. Agama, menurut mereka, menggunakan dalih blasphemy, penistaaan, bid’ah, musyrik, tabu dan sebagainya untuk membungkam pikiran mereka. Itu pun, dalam persepsi mereka, para agamawan hanya membatasi hak memahami agama pada otoritas keagamaan (ulama, pendeta, sami, dan sebagainya). Di sini agama menjadi buruk muka dan diposisikan sebagai pemasung kebebasan.
Inti masalahnya ada pada worldview masing-masing. Di Barat agama-agama memiliki alam pikirannya sendiri. Sejarahnya, memang selalu bentrok dengan masyarakat Barat, khususnya masyarakat ilmiah (scientific community).
John Milton, sastrawan dan penulis politik Inggris pernah bentrok dengan parlemen. Itu gara-gara brosur buatannya yang liar, tidak bertanggung jawab, tidak masuk akal dan ilegal. Tapi Milton membela diri. Katanya, kesatuan suatu bangsa diperoleh melalui gabungan pendapat individu yang berbeda ketimbang homogenitas yang dipaksakan. Kemampuan menggali ide-ide cemerlang diperlukan dan kebenaran tidak dapat dicapai kecuali dengan merujuk semua pendapat orang.
Jadi, bagi pemikir non-agama, kebenaran tidak harus melalui otoritas keagamaan. Milton bahkan menambahi pembelaannya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam kompetisi terbuka.
Tapi siapa yang akan menentukan sesuatu itu benar dan salah? Menurut Milton bukan individu, tapi gabungan pendapat individu-individu. Katakanlah kebenaran ditentukan oleh suara mayoritas. Sekilas orang bisa terima, tapi ternyata ini bermasalah. Sebab bagi Milton, meski mayoritas telah bersuara, setiap individu dibebaskan untuk menemukan kebenaran mereka sendiri-sendiri. Jadi teori Milton masih problematik, karena tidak ada standar kebenaran. Kebenaran itu tergantung pada individu masing-masing.
Kebebasan mencari dan menentukan kebenaran gaya Milton tetap saja akan memihak. Nah, tapi Noam Chomsky mencoba merumuskan begini: "Jika Anda percaya pada kebebasan berbicara, Anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak kau sukai." (If you're in favor of freedom of speech, that means you're in favor of freedom of speech precisely for views you despise). Tapi kenyataannya Stalin dan Hitler yang mengaku mendukung kebebasan berbicara, hanya mendukung pendapat yang mereka sukai saja.
Kembali ke soal blasphemy. Jika orang melakukan penistaan agama dengan dalih kebebasan berfikir dan berpendapat, maka rumus Milton perlu digunakan. Serahkan ketentuan benar dan salah pada suara mayoritas yang berilmu tentang itu. Bukan kepada individu tapi kepada komunitas, dan ini harus mengikat individu.
Hegemoni Barat pada era modern dan postmodern kini jelasnya nampak begitu sulit dibendung kehadirannya. Hampir semua aspek kehidupan tidak mudah melepaskan dari hegemoni Barat. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, gaya hidup, tradisi dan pemikiran Barat, semuanya telah menusuk jantung masyarakat dunia. Bagi dunia Islam, yang paling berbahaya adalah hegemoni dalam bidang keagaamaan dan pemikiran
Sepanjang lamanya penindasan barat terhadap umat islam adalah suatu kekacauan dan tentangan yang paling serius pernah berlaku dalam sebuah peradaban sehingga umat islam dihinggap penyakit rendah diri ataupun imferiority complex hasil tercetusnya penjajahan 400 tahun terhadap umat islam gara-gara ketidakseimbangan pertembungan islam dan barat.Inilah suatu tentangan yang paling teruk yang dialami oleh umat islam saat ini.Prof Syed Naquib Al-Attas seorang pemikir yang dikenal cukup baik oleh dunia pemikiran barat mahupun islam memandang masalah ini adalah terbesar terhadap umat islam
Oleh kerana masalah yang dialami umat islam dewasa ini adalah hegemoni dalam bentuk dominasi keilmuan secular barat yang mengarah kearah kehancuran umat manusia.Menurut Al-Attas ,bagi barat,kebenaran fundamental dipandang dari agama sekadar teoritis.Kebenaran absolute dinegasikan dalam nilai-nilai relatif diterima.Bahawa tiada kepastian ataupun kemutlakan diterima.
Kesimpulannya mengarah manusia mengasingkan kehidupan dunia daripada ketuhanan mahupun akhirat dikotomikan dalam kehidupan harian seterunya memberi kuasa kepada manusia mentadbir dengan bebas mengatur dunia.Permasalahan ini begitu besar terjadi kepada umat islam dalam mengatur kehidupan harian.Proses yang mendominasikan agenda kekeliruan pemikiran umat islam saat ini dimulakan dari gagasan bentuk hegemoni yang bermula pada kristian kedominasi bentuk sekular hingga beranakkan kepada liberal.
Faham sekular-liberal ini memiliki framework pemikiran dan konsepsi yang keliru tentang ilmu, manusia, agama, wahyu, Tuhan dan kata kunci lainnya yang mendefinisikan pandangan alam sesuatu peradaban. Kekeliruan dalam epistemologi inilah yang menyebabkan Barat gagal mengenali hakikat sebenarnya akan realitas kehidupan dan meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sepatutnya.
bersambung.....
P/s:sedang dalam proses menyiapkan kertas kerja ilmiah(tesis)bertajuk HEGEMONI BARAT KESANNYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DIMALAYSIA
Sepanjang lamanya penindasan barat terhadap umat islam adalah suatu kekacauan dan tentangan yang paling serius pernah berlaku dalam sebuah peradaban sehingga umat islam dihinggap penyakit rendah diri ataupun imferiority complex hasil tercetusnya penjajahan 400 tahun terhadap umat islam gara-gara ketidakseimbangan pertembungan islam dan barat.Inilah suatu tentangan yang paling teruk yang dialami oleh umat islam saat ini.Prof Syed Naquib Al-Attas seorang pemikir yang dikenal cukup baik oleh dunia pemikiran barat mahupun islam memandang masalah ini adalah terbesar terhadap umat islam
Oleh kerana masalah yang dialami umat islam dewasa ini adalah hegemoni dalam bentuk dominasi keilmuan secular barat yang mengarah kearah kehancuran umat manusia.Menurut Al-Attas ,bagi barat,kebenaran fundamental dipandang dari agama sekadar teoritis.Kebenaran absolute dinegasikan dalam nilai-nilai relatif diterima.Bahawa tiada kepastian ataupun kemutlakan diterima.
Kesimpulannya mengarah manusia mengasingkan kehidupan dunia daripada ketuhanan mahupun akhirat dikotomikan dalam kehidupan harian seterunya memberi kuasa kepada manusia mentadbir dengan bebas mengatur dunia.Permasalahan ini begitu besar terjadi kepada umat islam dalam mengatur kehidupan harian.Proses yang mendominasikan agenda kekeliruan pemikiran umat islam saat ini dimulakan dari gagasan bentuk hegemoni yang bermula pada kristian kedominasi bentuk sekular hingga beranakkan kepada liberal.
Faham sekular-liberal ini memiliki framework pemikiran dan konsepsi yang keliru tentang ilmu, manusia, agama, wahyu, Tuhan dan kata kunci lainnya yang mendefinisikan pandangan alam sesuatu peradaban. Kekeliruan dalam epistemologi inilah yang menyebabkan Barat gagal mengenali hakikat sebenarnya akan realitas kehidupan dan meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sepatutnya.
bersambung.....
P/s:sedang dalam proses menyiapkan kertas kerja ilmiah(tesis)bertajuk HEGEMONI BARAT KESANNYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DIMALAYSIA
oleh:DR KHALIF MUAMMAR
Pada 31 Disember 2007 Akhbar New Straits Times melaporkan bahawa Kementerian Keselamatan Dalam Negeri telah memberikan kelulusan pembaharuan permit penerbitan bagi akhbar Katolik Herald: The Catholic Weekly. Sebelum itu pihak Kerajaan telah menangguhkan pembaharuan permit tersebut untuk meneliti sama ada penggunaan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan dalam agama Kristian sesuatu yang wajar. Langkah ini dibuat setelah masyarakat Islam melahirkan rasa tidak puas hati. Ternyata Kerajaan telah mengambil kira pandangan beberapa pihak yang tidak mahu penggunaan kalimat tersebut dibenarkan. Walaupun akhirnya permit diberikan tetapi Kementerian tetap melarang akhbar terbabit untuk menggunakan perkataan Allah sebagai Tuhan agama Kristian.
Akhbar Harakah yang menjadi lidah rasmi pembangkang pada keluaran 1-15 Januari pula menulis bahawa Ketua Dewan Ulama Pas mengatakan bahawa tidak salah penganut Kristian menggunakan kalimat Allah dengan alasan ia telahpun digunakan sebelum ini di beberapa Negara tertentu. Di sini kesan yang tampak adalah “pandangan kami semestinya berbeza dengan penguasa”: apapun pandangan lawan adalah salah dan apapun pandangan kawan adalah benar. Dengan pendekatan tersebut ia diharap dapat menunjukkan betapa toleransinya pihak pembangkang kepada orang bukan Islam. Tentunya ini diharapkan dapat meraih simpati orang bukan Islam terhadap pembangkang. Persoalannya adalah apakah ini cara yang tepat untuk memperoleh sokongan? Dari pihak Muslim liberal, A Farish Noor mengatakan bahawa kalimat Allah tidak boleh dimonopoli oleh umat Islam. Dengan demikian sekali lagi telah menyalahtafsirkan bantahan umat Islam sebagai satu ketaksuban dan sikap tidak bertoleransi. Tanpa melihat dan cuba memahami hujah-hujah yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang membantah.
Kalimat Allah adalah istilah teknikal yang khusus untuk merujuk kepada nama Tuhan bagi orang Islam. Penggunaan kalimat ini oleh para pendakwah Kristian mempunyai tujuan mengelirukan umat Islam. Mesej yang tersembunyi adalah Tuhan penganut Kristian tidak berbeza dengan Tuhan orang Islam. Kerana mereka telah menerima konsep pluralisme agama bahawa semua agama pada hakikatnya sama sahaja dan kebenaran sesuatu agama tidak bersifat ekslusif. Faham pluralisme agama ini telah diterima oleh sebahagian besar masyarakat bukan Islam. Hanya umat Islam sahaja bertegas bahawa Islam sahaja agama yang benar sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Jika umat Islam telah menerima bahawa Tuhan agama Kristian dan agama Islam adalah sama maka lebih mudah untuk memujuk mereka bertukar agama (murtad). Seharusnya di Negara-negara yang majoritinya umat Islam, orang Kristian perlu lebih menghormati sensitiviti orang Islam. Namun sebaliknya golongan minoriti ini cuba menggugat kepentingan golongan majoriti. Mereka perlu sedar bahawa di negara-negara majoriti Muslim ini umat Islam masih memiliki semangat keagamaan yang baik sehingga segala usaha untuk menggugat kepentingan umat Islam akan menimbulkan kekecohan dan bantahan yang kuat daripada masyarakat Islam.
Pada hari ini kalimat Allah memang bukan hanya digunakan oleh umat Islam. Kalimat Allah dibenarkan, atau lebih tepat lagi dibiarkan, digunakan oleh masyarakat Kristian di Indonesia dan Lubnan kerana pemerintahan sekular seperti Indonesia dan Lubnan tidak akan campur tangan dalam hal-hal berkaitan dengan agama tertentu. Malah di negara seperti Lubnan kelompok Kristian mempunyai pengaruh yang besar kepada kerajaan. Jadi tindakan membiarkan pihak Kristian menggunakan kalimat Allah bukan satu toleransi tetapi satu penggadaian hak dan kedaulatan. Ia adalah satu kerugian yang besar dan kelemahan yang nyata apabila umat Islam membiarkan penganut agama lain mendangkalkan konsep dan istilah penting dalam Islam. Perkataan Allah, Solat, Nabi, Rasul, dsb. membawa makna yang tersendiri setelah digunakan oleh umat Islam berkurun lamanya. Kalimat-kalimat ini telah menjadi bahagian penting daripada pandangan sarwa Islam (Islamic worldview). Jika ia dikaburkan maka sudah tentu akan memberi kesan kepada pemikiran umat Islam.
Sesiapa pun yang ingin memahami persoalan ini perlu sedar bahawa beberapa istilah keagamaan tertentu telah menjadi milik umat Islam. Sebarang tindakan mengimpotnya boleh dikira sebagai penyalahgunaan dan pencabulan terhadap agama tersebut. Oleh itu istilah keagamaan ini, dari agama manapun ia datang, mesti dihormati oleh penganut agama lain. Seperti istilah Pope, Paderi (priest), Sami (Monk) dalam agama Kristian tidak boleh digunakan sewenang-wenang oleh agama lain. Bukan sahaja kerana ia telah sinonim dengan agama penggunanya tetapi juga kerana kalimat ini telah diwarnai atau mengandungi pandangan sarwa penggunanya.
Kita perlu jelas bahawa sikap Islam terhadap agama lain tidak seperti yang digambarkan oleh media Barat. Sejarah menunjukkan umat Islamlah yang paling toleran terhadap penganut agama lain. Toleransi hanya akan wujud apabila ada rasa hormat. Jadi tumpuan perlu diberikan kepada sikap dan bukan ajaran sesuatu agama. Toleransi tidak bermakna melucutkan kepercayaan dan keyakinan seseorang demi mewujudkan keharmonian. Kita perlu sedar bahawa wacana pluralisme yang dicanangkan oleh Barat adalah wacana yang berasaskan kepada sekularisme dan falsafah-falsafah yang memusuhi agama. Bagi umat Islam, agama adalah sesuatu yang terakhir untuk dikorbankan. Sedangkan bagi majoriti masyarakat Barat agama sudah tidak memberi apa-apa makna dalam kehidupan lagi.
Tiba saatnya umat Islam, dengan diwakili oleh ulama dan umaranya, berfikir cerdas. Menimbang sesuatu perkara secara ilmiah dan mendalam tanpa wujud unsur kepentingan sesaat. Dalam membahas sesuatu isu khususnya berkaitan dengan sensitiviti umat Islam hendaklah mempertimbangkannya dengan baik dan tidak mengambil kesimpulan secara pantas/adhoc. Kepentingan politik adakalanya perlu diketepikan dan keutamaan patut diberikan kepada kepentingan keseluruhan masyarakat.
*Penulis adalah Felo Penyelidik Institut Alam dan Tamaangkal dun Melayu (ATMA), UKM.
#baca jugak ini
Kamuflisan Umat Kristiani di Indonesia
#zulkifli nordin-natrah ke2
P/S:Merasa bimbang lagi bila isu ini tidak di adili berbanding isu reaksi politik semata-mata.Di mana mahasiswa yang sibuk mengetuai dan semangat demo untuk bersuara dalam isu ini seolah tidak beradab dalam mengadili isu.
sekali lagi berasa pelik dan dangkal dengan majlis raja-raja melayu yang bisu dengan kebatilan
Pada 31 Disember 2007 Akhbar New Straits Times melaporkan bahawa Kementerian Keselamatan Dalam Negeri telah memberikan kelulusan pembaharuan permit penerbitan bagi akhbar Katolik Herald: The Catholic Weekly. Sebelum itu pihak Kerajaan telah menangguhkan pembaharuan permit tersebut untuk meneliti sama ada penggunaan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan dalam agama Kristian sesuatu yang wajar. Langkah ini dibuat setelah masyarakat Islam melahirkan rasa tidak puas hati. Ternyata Kerajaan telah mengambil kira pandangan beberapa pihak yang tidak mahu penggunaan kalimat tersebut dibenarkan. Walaupun akhirnya permit diberikan tetapi Kementerian tetap melarang akhbar terbabit untuk menggunakan perkataan Allah sebagai Tuhan agama Kristian.
Akhbar Harakah yang menjadi lidah rasmi pembangkang pada keluaran 1-15 Januari pula menulis bahawa Ketua Dewan Ulama Pas mengatakan bahawa tidak salah penganut Kristian menggunakan kalimat Allah dengan alasan ia telahpun digunakan sebelum ini di beberapa Negara tertentu. Di sini kesan yang tampak adalah “pandangan kami semestinya berbeza dengan penguasa”: apapun pandangan lawan adalah salah dan apapun pandangan kawan adalah benar. Dengan pendekatan tersebut ia diharap dapat menunjukkan betapa toleransinya pihak pembangkang kepada orang bukan Islam. Tentunya ini diharapkan dapat meraih simpati orang bukan Islam terhadap pembangkang. Persoalannya adalah apakah ini cara yang tepat untuk memperoleh sokongan? Dari pihak Muslim liberal, A Farish Noor mengatakan bahawa kalimat Allah tidak boleh dimonopoli oleh umat Islam. Dengan demikian sekali lagi telah menyalahtafsirkan bantahan umat Islam sebagai satu ketaksuban dan sikap tidak bertoleransi. Tanpa melihat dan cuba memahami hujah-hujah yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang membantah.
Kalimat Allah adalah istilah teknikal yang khusus untuk merujuk kepada nama Tuhan bagi orang Islam. Penggunaan kalimat ini oleh para pendakwah Kristian mempunyai tujuan mengelirukan umat Islam. Mesej yang tersembunyi adalah Tuhan penganut Kristian tidak berbeza dengan Tuhan orang Islam. Kerana mereka telah menerima konsep pluralisme agama bahawa semua agama pada hakikatnya sama sahaja dan kebenaran sesuatu agama tidak bersifat ekslusif. Faham pluralisme agama ini telah diterima oleh sebahagian besar masyarakat bukan Islam. Hanya umat Islam sahaja bertegas bahawa Islam sahaja agama yang benar sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Jika umat Islam telah menerima bahawa Tuhan agama Kristian dan agama Islam adalah sama maka lebih mudah untuk memujuk mereka bertukar agama (murtad). Seharusnya di Negara-negara yang majoritinya umat Islam, orang Kristian perlu lebih menghormati sensitiviti orang Islam. Namun sebaliknya golongan minoriti ini cuba menggugat kepentingan golongan majoriti. Mereka perlu sedar bahawa di negara-negara majoriti Muslim ini umat Islam masih memiliki semangat keagamaan yang baik sehingga segala usaha untuk menggugat kepentingan umat Islam akan menimbulkan kekecohan dan bantahan yang kuat daripada masyarakat Islam.
Pada hari ini kalimat Allah memang bukan hanya digunakan oleh umat Islam. Kalimat Allah dibenarkan, atau lebih tepat lagi dibiarkan, digunakan oleh masyarakat Kristian di Indonesia dan Lubnan kerana pemerintahan sekular seperti Indonesia dan Lubnan tidak akan campur tangan dalam hal-hal berkaitan dengan agama tertentu. Malah di negara seperti Lubnan kelompok Kristian mempunyai pengaruh yang besar kepada kerajaan. Jadi tindakan membiarkan pihak Kristian menggunakan kalimat Allah bukan satu toleransi tetapi satu penggadaian hak dan kedaulatan. Ia adalah satu kerugian yang besar dan kelemahan yang nyata apabila umat Islam membiarkan penganut agama lain mendangkalkan konsep dan istilah penting dalam Islam. Perkataan Allah, Solat, Nabi, Rasul, dsb. membawa makna yang tersendiri setelah digunakan oleh umat Islam berkurun lamanya. Kalimat-kalimat ini telah menjadi bahagian penting daripada pandangan sarwa Islam (Islamic worldview). Jika ia dikaburkan maka sudah tentu akan memberi kesan kepada pemikiran umat Islam.
Sesiapa pun yang ingin memahami persoalan ini perlu sedar bahawa beberapa istilah keagamaan tertentu telah menjadi milik umat Islam. Sebarang tindakan mengimpotnya boleh dikira sebagai penyalahgunaan dan pencabulan terhadap agama tersebut. Oleh itu istilah keagamaan ini, dari agama manapun ia datang, mesti dihormati oleh penganut agama lain. Seperti istilah Pope, Paderi (priest), Sami (Monk) dalam agama Kristian tidak boleh digunakan sewenang-wenang oleh agama lain. Bukan sahaja kerana ia telah sinonim dengan agama penggunanya tetapi juga kerana kalimat ini telah diwarnai atau mengandungi pandangan sarwa penggunanya.
Kita perlu jelas bahawa sikap Islam terhadap agama lain tidak seperti yang digambarkan oleh media Barat. Sejarah menunjukkan umat Islamlah yang paling toleran terhadap penganut agama lain. Toleransi hanya akan wujud apabila ada rasa hormat. Jadi tumpuan perlu diberikan kepada sikap dan bukan ajaran sesuatu agama. Toleransi tidak bermakna melucutkan kepercayaan dan keyakinan seseorang demi mewujudkan keharmonian. Kita perlu sedar bahawa wacana pluralisme yang dicanangkan oleh Barat adalah wacana yang berasaskan kepada sekularisme dan falsafah-falsafah yang memusuhi agama. Bagi umat Islam, agama adalah sesuatu yang terakhir untuk dikorbankan. Sedangkan bagi majoriti masyarakat Barat agama sudah tidak memberi apa-apa makna dalam kehidupan lagi.
Tiba saatnya umat Islam, dengan diwakili oleh ulama dan umaranya, berfikir cerdas. Menimbang sesuatu perkara secara ilmiah dan mendalam tanpa wujud unsur kepentingan sesaat. Dalam membahas sesuatu isu khususnya berkaitan dengan sensitiviti umat Islam hendaklah mempertimbangkannya dengan baik dan tidak mengambil kesimpulan secara pantas/adhoc. Kepentingan politik adakalanya perlu diketepikan dan keutamaan patut diberikan kepada kepentingan keseluruhan masyarakat.
*Penulis adalah Felo Penyelidik Institut Alam dan Tamaangkal dun Melayu (ATMA), UKM.
#baca jugak ini
Kamuflisan Umat Kristiani di Indonesia
#zulkifli nordin-natrah ke2
P/S:Merasa bimbang lagi bila isu ini tidak di adili berbanding isu reaksi politik semata-mata.Di mana mahasiswa yang sibuk mengetuai dan semangat demo untuk bersuara dalam isu ini seolah tidak beradab dalam mengadili isu.
sekali lagi berasa pelik dan dangkal dengan majlis raja-raja melayu yang bisu dengan kebatilan
Saya sempat singgah sebentar di pustaka petang tadi untuk melepaskan kerinduan dengan buku-buku yang bakal menjadi mangsa untuk saya beli.Seperti biasa duit elaun mesti akan habis di gunakan untuk membeli buku-buku ini setiap hujung bulan.Tadi saya sempat membeli buku berkaitan falsafah pendidikan islam konsep asli islamisasi karya Syed Naquib Al-Attas yang sebelum ini saya hanya mampu meminjam di pepustakaan Darul Quran sahaja.Kitab Ihya Ulumuddin juga menarik saya untuk belaja menyelami lagi dunia sufi di samping buku ringkas kehidupan sufistik versi Al Ghazali.maka seperti biasalah disipin jadual mesti di ketatkan penyusunan pembacaan walaupun terpaksamenjadi hamba sistem pendidikan ciptaan kapatalisme!
saya teringat janji saya untuk menghuraikan secara ringkas berkaitan cara pandang muslim terhadap barat berdasarkan pembacaan saya di makalah pada majalah islamia baru-baru lepas.Sebelum itu saya bertanya kenapa kita perlu cenderung berkaitan oksidentalisme?Bagi saya antara oksidentalis yang hebat dalam renungan ilmiah adalah Syed Naquib Al-Attas tidak kurang adiknya Syed Hussein Al Attas yang lebih cenderung kepada sosiologi dan politik.
TEGURAN HUFFAZ WATAK TERTAWAN
Pandangan saya mengatakan apabila budaya ilmu telah di terbalikkan menghasilkan "captive mind" di kalangan pelajar mahasiswa sendiri bahkan telah membuka lagi pintu kehalusan sekularisme mahupun neo kolonialisasi.Punca kerana gagal memahami akar permasalahan ini.Teguran saya kepada golongan kakak tua dan golongan berasa begitu smart bersama ahlinya yang hanya mahir menguasai segala buku DPF perlu mengubah cara berfikir.
Takkan sampai tahun akhir kita berada di kampus hanya menjadi hamba kepada dasar kapatalis ataupun "robot statik " yang malas untuk berbincang isu-isu sentral ataupun mahu membaca buku-buku keluaran DPF semata-mata?.Ingat nak memimpin kena lebih pada semua itu.Malah tidak mustahil ramai mahasiswa islam yang bertaburan hari ini sebenarnya menjadi mangsa sembelih barat!.Antara puncanya gagal memahami islamisasi pendidikan sebenarnya.
Ya,barat hanya mampu senyum melihat islam bertelagah!
Ya barat senyum tengok huffaz mengaji dari pagi sampai malam!
Hasilnya segala hegemoni berbentuk politik,pendidikan,ekonomi menjadi ancaman terhadap dunia islam ketika ini.Maka merealisasikan segala teori GRAMSCI!
Saya berbalik kepada huraian ringkas saya berkaitan empat cara pandangan muslim terhadap barat yang di sampaikan oleh HAMID FAHMY ZARKASYI di makalah islamia:
GOLONGAN PERTAMA-golongan awam muslim yang memiliki persepsi dominan bahawa barat adalah simbol kemajuan segala sudut dan memnganggap barat penentu kemajuan
GOLONGAN KEDUA-golongan muslim terpelajar mengganggap barat simbolkecanggihan metodologi penelitian dan pengkajian.Kajian filsafat dan ilmu-ilmu humaniora laina di ambil model bagi semua ilmu termasuk ilmu keaagamaan islam.Kolompok yang mengaggap neutral sesuatu ilmu tidak kisah mengambil dari barat asal membawa keemajuaan(muslim modernis dan sekular) di anggap golongan membantu barat
GOLONGAN KETIGA-golongan yang melihat barat sebagai bangsa yang harus di tentang.Semua dari barat perlu di tolak.Kelompok ini tidak membantu barat
GOLONGAN KEEMPAT-golongan yang melihat barat secara kritis dan objektif iaitu barat adalah peradaban asing yang berbeza dengan islam dalam banyak hal.Tidak semua dari barat baik tidak pun dari barat semua buruk.Barat perlu di lihat secara cermat berdasarkan epistemologi dari akarnya.
p/s: tengah dalam wat pengkajiaan tesis berkaitan oksidentalisme.Moga tajuk di terima ustazah Zamzarina =)
saya teringat janji saya untuk menghuraikan secara ringkas berkaitan cara pandang muslim terhadap barat berdasarkan pembacaan saya di makalah pada majalah islamia baru-baru lepas.Sebelum itu saya bertanya kenapa kita perlu cenderung berkaitan oksidentalisme?Bagi saya antara oksidentalis yang hebat dalam renungan ilmiah adalah Syed Naquib Al-Attas tidak kurang adiknya Syed Hussein Al Attas yang lebih cenderung kepada sosiologi dan politik.
TEGURAN HUFFAZ WATAK TERTAWAN
Pandangan saya mengatakan apabila budaya ilmu telah di terbalikkan menghasilkan "captive mind" di kalangan pelajar mahasiswa sendiri bahkan telah membuka lagi pintu kehalusan sekularisme mahupun neo kolonialisasi.Punca kerana gagal memahami akar permasalahan ini.Teguran saya kepada golongan kakak tua dan golongan berasa begitu smart bersama ahlinya yang hanya mahir menguasai segala buku DPF perlu mengubah cara berfikir.
Takkan sampai tahun akhir kita berada di kampus hanya menjadi hamba kepada dasar kapatalis ataupun "robot statik " yang malas untuk berbincang isu-isu sentral ataupun mahu membaca buku-buku keluaran DPF semata-mata?.Ingat nak memimpin kena lebih pada semua itu.Malah tidak mustahil ramai mahasiswa islam yang bertaburan hari ini sebenarnya menjadi mangsa sembelih barat!.Antara puncanya gagal memahami islamisasi pendidikan sebenarnya.
Ya,barat hanya mampu senyum melihat islam bertelagah!
Ya barat senyum tengok huffaz mengaji dari pagi sampai malam!
Hasilnya segala hegemoni berbentuk politik,pendidikan,ekonomi menjadi ancaman terhadap dunia islam ketika ini.Maka merealisasikan segala teori GRAMSCI!
Saya berbalik kepada huraian ringkas saya berkaitan empat cara pandangan muslim terhadap barat yang di sampaikan oleh HAMID FAHMY ZARKASYI di makalah islamia:
GOLONGAN PERTAMA-golongan awam muslim yang memiliki persepsi dominan bahawa barat adalah simbol kemajuan segala sudut dan memnganggap barat penentu kemajuan
GOLONGAN KEDUA-golongan muslim terpelajar mengganggap barat simbolkecanggihan metodologi penelitian dan pengkajian.Kajian filsafat dan ilmu-ilmu humaniora laina di ambil model bagi semua ilmu termasuk ilmu keaagamaan islam.Kolompok yang mengaggap neutral sesuatu ilmu tidak kisah mengambil dari barat asal membawa keemajuaan(muslim modernis dan sekular) di anggap golongan membantu barat
GOLONGAN KETIGA-golongan yang melihat barat sebagai bangsa yang harus di tentang.Semua dari barat perlu di tolak.Kelompok ini tidak membantu barat
GOLONGAN KEEMPAT-golongan yang melihat barat secara kritis dan objektif iaitu barat adalah peradaban asing yang berbeza dengan islam dalam banyak hal.Tidak semua dari barat baik tidak pun dari barat semua buruk.Barat perlu di lihat secara cermat berdasarkan epistemologi dari akarnya.
p/s: tengah dalam wat pengkajiaan tesis berkaitan oksidentalisme.Moga tajuk di terima ustazah Zamzarina =)

Sudah lama saya tidak mendapatkan majalah islamia(jurnal pemikiran dan peradaban islam) ketika suatu masa dahulu menjadi pelanggan tetap tetapi semuanya saya sudah tidak pasti di mana majalah itu yang lama-lama.Hari ini saya tidak jadi untuk ke ISTAC gara-gara sebab tertentu dan saya teruskan ke tempat biasa saya di fajar ilmu wisma yakin untuk dapati majalah islamia ini.Saya sempat membeli sebuah buku yang saya rasa cukup menarik untuk di kenalkan dan sempat berbincang kaitan buku ini dengan abg faisyal di tengah-tengah jalan hehe.Buku ini menarik perhatian saya kebetulan sekarang saya sedang membaca beberapa buku PROF DR WAN MOHD WAN DAUD sememangnya berkaitan kata-kata syed naquib al attas.Buku ini di tulis oleh ADIAN HUSAINI(Anak didik al attas) dan penghantar oleh DR WAN MOHD WAN DAUD .
Buku yang padat dengan sumber dan maklumat kebanyakkan di gali dari khazanah perpustakaan istac.Buku yang saya ingin kenalkan adalah sebuah buku bertajuk "WAJAH PERADABAN BARAT DARI HEGEMONI KRISTEN KE DOMINASI SEKULAR DAN LIBERAL"
Perbincangan tentang barat dalam buku ini cukup lengkap dan kajian yang bagus mengenai wajah sebenar peradaban barat dan pengkajian oksidentalisme.
Maemahami barat adalah sebenar dapat memahami permasalahan pemikiran yang di belenggu masyarakat tidak kurang kepada intelektual muslim yang memahami barat sebagai simbol kemajuan dan kecanggihan metodologi penelitian yang di sebut oleh CHERLY BERNARD iaitu muslim "MODERNIS dan SEKULAR"
Pandangan sebenar terhadap barat melihat secara kritis dan objektif iaitu melihat pada perbezaan asing daripada peradaban islam.Tidak semua dari barat buruk dan tidak semua dari barat baik.Barat perlu di lihat secara cermat melalui pengkajian dari akar umbi.Insyaallah saya akan ulaskan lebih lanjut pandangan muslim terhadap barat ada 4 peringkat mengikut pandangan HAMID FAHMI ZARKASYI.
kembali kepada buku peradaban barat mungkin mengambil masa saya untuk di bedah sebaik-baiknya walaupun terpaksa membaca berulang kali pasti memerlukan perbincangan. berkaitan "POSMORDENISME" nanti saya kongsikan masih dalam mengkaji.Yang pasti tumpuan mungkin saya alihkan sementara pada exam tidak lama lagi.=)
Dialog ini bertujuan untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih adil,lebih merdeka malah lebih manusiawi.Saya rasa cukup berat untuk membawa maksud pengertian mekanisme dialog sebuah peradaban ini jika memandang konflik peradaban yang berlaku ketika ini cukup sukar untuk memahami khususnya dunia hari ini.saya terus memaksa menelaah kitab yang sering di agung-agungkan tokoh-tokoh barat iaitu muqqaddimah ibnu khaldun bagi memahami konsep ketamadunan ini secara jelasnya.Memang berat penilitian kajian tamadun ini sehingga mencapai maksudnya.
Dialog boleh di ertikan sebagai suatu percubahan perbezaan pendapat antara dua pihak,kepercayaan atau pandangan untuk melakukan sesuatu aktiviti bagi mendapat kesefahamanan yang baik serterusnya dapat mewujudkan sikap saling memahani antara satu sama lain.Dialog juga di sebut dengan muzakarah,mujadalah bagi melengkapi benih-benih fikiran untuk di satukan mencapai kekuatan optimum penyelesaian.
Buruk yang terjadi dunia hari ini konsep tersebut tidak di capai sebaik-baiknya malah sebaliknya perpecahan yang berlaku.Konflik secara dalaman dan luaran semakin parah tercetusnya hingga belum suatu perancangan yang kokrit dan praktikal dalam menyelesaikan konflik ini.Seperti kata ALWI SHIHAB bahawa soal mana yang lebih benar dan salah bukan tujuan dialog.Itu semua urusan Allah.tetapi yang menjadi fokus dialog itu mencari TITIK TEMU.Jika titik temu tidak dapat di jumpai malah egoisme pendapat menjadi puncak segalanya tidak mustahil menjadi penyebab kehancuran.Sesungguhnya islam mengajar konsep menghormati antara yang lain serta agama lain.Sejarah menunjukkan bahawa nabi dan khalifah ryasidin tidak pernah menular agama selain islam apatah lagi menyuruh untuk menukar agama demi syarat untuk hidup bersama kaum muslimin.Nabi menerima kunjungan kristian dari najran.Nabi menyambut baik rombongan seramai 60 orang yang di pimpin ABDUL MASIH AL AYHAM dan ABU HARITHAH AL GAMA.Ini jelas menbuktikan bahawa islam tidak meminggir kaum-kaum yang lain selain islam.
Mungkin benar sekali IBNU RUMI mengatakan "memang aneh dunia ini,engkau menginginkan orang lain bersih sedang engkau sendiri tidak bersih" .Virus HEGEMONI KUFFAR sememangnya tidak akan terhenti malah di lebarkan skopnya sehingga kepada pengekspotan budaya,ekonomi,undang-undang dan pemikiran.Itulah yang membarahkan umat islam hari ini yang telah di peradabankan oleh virus ini sehingga mencapai tahap dominan ketika ini.Terbukti di dalam MUKADDIMAH IBNU KHALDUN apabila sesuatu kaum atau bangsa sudah hilang budaya jati diri dalam kehidupannya maka mereka terpaksa mengikut budaya jati diri yang lebih dominan ketika itu.Maka tidak hairanlah hari ini begitu parahnya ikutan liberalisasi,amerikanisasi yang kononnya menjadi pejuang keadilan sejagat melalui "new world order" cuba menjadi kuasa di muka bumi ini.
Saya melihat secara jelasnya di sini punca terjadi permasalahan ini berikutan suatu yang pernah berlaku abad Romawi di mana kaum intelektual dan keagamaan ketika itu cukup-cukup parah dari sudut penerimaan perbezaan,egoisme,fanatisme yang melampau serta penghayatan ketuhanan tidak di hayati langsung dengan menyamakan konsep ketuhanan sama seperti benda lain.Ketiadaan TTIK TEMU dalam pemasalahan ini yang mengakibatkan DIALOG semakin di tepikan.
Tegasnya bahawa dialog menuntut kedua-dua belah pihak memilih dan bekerjasama daripda berkonfrontasi serta salah menyalahkan.
Jelasnya wajibnya untuk kita mengambil inisiatif untuk merapatkan lagi jurang perbezaan agama,kaum,dan pendapat yang berbeza ini.Konsep LITAA'RUF saling kenal mengenali mestilah di praktikkan untuk kita bersama menangkis TEORI HUNTINGON ini melalui gagasannya CLASH OF CIVILIZATION.
Mekanisme peradaban ini perlu di bina segera.Mewujudkan simbiosis di anrtara peradaban merupakan langkah yang terbaik untuk membina kesepakatan yang sejagat.Kemunduran ummah tidak terjadi sekiranya kita tidak menjadi bangau kepada kuffar.Sekali lagi saya tegaskan bahawa konflik ini tidak akan terjadi sekiranya faktor ilmu yang mengawal pendirian dan pemikiran kita.Teruskan modal intelek,kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.Teruskan MENGKAJI dan BERFIKIR!!!
Dialog boleh di ertikan sebagai suatu percubahan perbezaan pendapat antara dua pihak,kepercayaan atau pandangan untuk melakukan sesuatu aktiviti bagi mendapat kesefahamanan yang baik serterusnya dapat mewujudkan sikap saling memahani antara satu sama lain.Dialog juga di sebut dengan muzakarah,mujadalah bagi melengkapi benih-benih fikiran untuk di satukan mencapai kekuatan optimum penyelesaian.
Buruk yang terjadi dunia hari ini konsep tersebut tidak di capai sebaik-baiknya malah sebaliknya perpecahan yang berlaku.Konflik secara dalaman dan luaran semakin parah tercetusnya hingga belum suatu perancangan yang kokrit dan praktikal dalam menyelesaikan konflik ini.Seperti kata ALWI SHIHAB bahawa soal mana yang lebih benar dan salah bukan tujuan dialog.Itu semua urusan Allah.tetapi yang menjadi fokus dialog itu mencari TITIK TEMU.Jika titik temu tidak dapat di jumpai malah egoisme pendapat menjadi puncak segalanya tidak mustahil menjadi penyebab kehancuran.Sesungguhnya islam mengajar konsep menghormati antara yang lain serta agama lain.Sejarah menunjukkan bahawa nabi dan khalifah ryasidin tidak pernah menular agama selain islam apatah lagi menyuruh untuk menukar agama demi syarat untuk hidup bersama kaum muslimin.Nabi menerima kunjungan kristian dari najran.Nabi menyambut baik rombongan seramai 60 orang yang di pimpin ABDUL MASIH AL AYHAM dan ABU HARITHAH AL GAMA.Ini jelas menbuktikan bahawa islam tidak meminggir kaum-kaum yang lain selain islam.
Mungkin benar sekali IBNU RUMI mengatakan "memang aneh dunia ini,engkau menginginkan orang lain bersih sedang engkau sendiri tidak bersih" .Virus HEGEMONI KUFFAR sememangnya tidak akan terhenti malah di lebarkan skopnya sehingga kepada pengekspotan budaya,ekonomi,undang-undang dan pemikiran.Itulah yang membarahkan umat islam hari ini yang telah di peradabankan oleh virus ini sehingga mencapai tahap dominan ketika ini.Terbukti di dalam MUKADDIMAH IBNU KHALDUN apabila sesuatu kaum atau bangsa sudah hilang budaya jati diri dalam kehidupannya maka mereka terpaksa mengikut budaya jati diri yang lebih dominan ketika itu.Maka tidak hairanlah hari ini begitu parahnya ikutan liberalisasi,amerikanisasi yang kononnya menjadi pejuang keadilan sejagat melalui "new world order" cuba menjadi kuasa di muka bumi ini.
Saya melihat secara jelasnya di sini punca terjadi permasalahan ini berikutan suatu yang pernah berlaku abad Romawi di mana kaum intelektual dan keagamaan ketika itu cukup-cukup parah dari sudut penerimaan perbezaan,egoisme,fanatisme yang melampau serta penghayatan ketuhanan tidak di hayati langsung dengan menyamakan konsep ketuhanan sama seperti benda lain.Ketiadaan TTIK TEMU dalam pemasalahan ini yang mengakibatkan DIALOG semakin di tepikan.
Tegasnya bahawa dialog menuntut kedua-dua belah pihak memilih dan bekerjasama daripda berkonfrontasi serta salah menyalahkan.
Jelasnya wajibnya untuk kita mengambil inisiatif untuk merapatkan lagi jurang perbezaan agama,kaum,dan pendapat yang berbeza ini.Konsep LITAA'RUF saling kenal mengenali mestilah di praktikkan untuk kita bersama menangkis TEORI HUNTINGON ini melalui gagasannya CLASH OF CIVILIZATION.
Mekanisme peradaban ini perlu di bina segera.Mewujudkan simbiosis di anrtara peradaban merupakan langkah yang terbaik untuk membina kesepakatan yang sejagat.Kemunduran ummah tidak terjadi sekiranya kita tidak menjadi bangau kepada kuffar.Sekali lagi saya tegaskan bahawa konflik ini tidak akan terjadi sekiranya faktor ilmu yang mengawal pendirian dan pemikiran kita.Teruskan modal intelek,kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.Teruskan MENGKAJI dan BERFIKIR!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
