Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

PLURALISME - Menutupi Cahaya Kebenaran (1)

Menutupi Cahaya Kebenaran

Akhir – akhir ini kerisauan jelas ternyata bila memikirkan pergolakan akidah menjadi suatu trend yang amat biasa terjadi kepada kaum muslimin, Kerancakkan permainan ini juga menjadi suatu kebahagian kepada “golongan intelektual “ kononnya tetapi di hujungnya adalah permainan ingin menipiskan aqidah islam atau menghilangkan tumpuan akhirnya.



Ya, Anda mungkin sudah mual dengan istilah-istilah permainan pemikiran ini tetapi anda tidak sama sekali melihatnya secara kritis jalan hujungnya malah sentiasa terjadi adalah untuk membuka ruang perkara yang sudah jelas lagi terang di tukarkan kepada jalan yang lebih menampakkan kekeliruan. Mengapa harus memilih cahaya lampu suluh yang tidak mampu menghidupkan ? Mengapa mempertikai hakikat cahaya matahari yang sudah jelas tujuannya? Pernyataan kedua-dua adalah memberi cahaya tetapi ternyata hakikatnya berlainan. cahaya matahari dengan cahaya lampu, kerana hakikat dan kedudukannya yg berbeza. ketika muncul cahaya matahari kita tidak lagi memerlukan cahaya lampu.



Inilah suatu konsep yang gagal atau degil difahami golongan yang gemar menamakan diri mereka golongan yang membawa kehormanian tetapi sayangnya sudah benar dirobek kebenaran itu kerana gagal memahami konsep pandangan alam islam tetapi lebih gemar membetulkan perkara yang sudah tidak betul pada pandang alam barat sehingga mampu mengeluarkan pemikiran yang diluar batas.




Saya percaya nama-nama seperti Rene Guenon, Ananda Coomaraswamy, Frithjof Schuon, Smith, John Hick, mahupun pada kalangan orang islam seperti Sayyed Hossein Nasr, Nurcholis Majid adalah biasa didengari. Sayyed Hossein dan Nurcholis adalah Mereka yang tergolong mendukung pemikiran ini melalui pendekatan tradisionalis dan falsafah perennial(ini akan dijelaskan pada tulisan seterusnya) berbanding pada bukan kalangan orang islam seperti hick, schuon etc lebih pendekatan sekular dan liberal. Apa yang menjadi menarik dan perlu difokuskan adalah walaupun terdapat arus yang berlainan iaitu tradisionalis dan sekular, namun kedua-duanya dapat bekerjasama dan berganding bahu untuk menyebarkan fahaman ini dan jelas ini adalah suatu pembikinan modenisasi dan liberalisasi. Kerangka ekslusivisme di tukarkan kepada inklusivisme.



“Bertentangan Akidah” atau “Peaceful coexistence”



Jelasnya akidah adalah jalan akhir setiap konsep mahupun pergerakan barat untuk melemahkan kaum muslimin selain terjadi kerancuan dalam epistemologi.
Kita jelas nampak kabur atau kekeliruan agenda yang ingin dibawa kerana baunya begitu harmoni untuk diamalkan konsepnya malangnya kita gagal memahami antara penyata dan hakikat.Akhirnya kita kalah dalam percaturan ini.

” apakah pluralisme agama semestinya menjamin kehidupan antara komuniti beragama yang aman dan damai?

Pernyataan ini yang sering gagal dijawab atau dijelaskan. Kerana faham penyata diatas semestinya benar sedangkan tidak semestinya demikian. Maka dengan jelas sifat ekslusif bukanlah punca permasalahan komuniti beragama dan persoalan teologi tidak sesekali menjadi faktor utama permusuhan tetapi faktor lain yang sengaja dilupakan.

Jelasnya, kita sebagai Muslim, perlu berhati-hati dalam mendapat kefahaman yang masuk ke dalam benak kita, dengan cara meningkatkan keilmuan Islam kita, agar tidak keliru dan tersesat.

Dan yakinlah bahwa kebatilan pluralisme tidak mungkin dapat menutupi cahaya Islam yang terang benderang.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

”Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya.” (QS at-Taubah [9]: 32).

BERSAMBUNG....


p/s; Artikel ringkas ini adalah muqaddimah awal pemahaman permasalahan di atas. Dan saya yakin penyata di atas adalah asas permasalahan ini dan tulisan ini akan bersambung pada seterusnya. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui segalanya.

“Blasphemy”

Oleh: Hamid Fahmi Zarkasyi*


DALAM suatu simposium di Tokyo saya bertemu dengan Angel Rabasa. Ia salah seorang peneliti pada Rand Coorporation, yaitu NGO yang memberi saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat (AS) bagaimana menumpas fundamentalisme dalam Islam pasca 11 September.

Di saat coffee break, ia sengaja menghampiri saya dan langsung “menembak”, “What is wrong with Ahmadiyah in Indonesia?” Saya katakan “ini adalah kasus penistaan agama (religious blasphemy)”. “Oh no, itu kan masalah kebebasan berpendapat……bla…bla…bla.

Memang ia banyak tahu tentang Indonesia dan bahkan seperti ingin ikut campur urusan umat Islam. Saya baru teringat tulisan David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars, “Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam”. Kelihatannya, Rabasa ditugaskan untuk proyek yang disebut David.

“Baik, kalau begitu bagaimana dengan keberatan umat Kristiani terhadap aliran Jehovah yang dianggap sesat?” tanya saya. Dia, yang berkulit putih itu menjadi sedikit memerah seperti menahan sesuatu. “Ya tapi orang Kristen tidak melaporkan kasus ini ke pemerintah”, jawabnya.

Di sini saya faham bahwa dia keberatan dengan campur tangan pemerintah dalam urusan agama. Tentu ini mindset yang tipikal orang Barat sekuler. Agama tidak boleh masuk ruang publik dan tidak boleh menyatu dengan kekuasaan, apapun bentuknya. Padahal, yang saya tahu, aliran Children of God (COG) dan Jehovah Witnesses dilarang Kejaksaan Agung atas permintaan Ditjen Bimas Kristen karena dianggap sempalan Kristen. Jika demikian itu juga berdasarkan laporan para penganut Kristen.


Tapi kemudian saya katakan, kalau Anda menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy ke masyarakat, akan mengakibatkan chaos, atau kegaduhan. Anda tahu sendiri bagaimana masyarakat main hakim sendiri terhadap penganut Ahmadiyah di daerah-daerah. Dan jumlah mereka cukup banyak. Dan perlu Anda tahu bahwa penganut Ahmadiyah sendiri menganggap siapa pun yang tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi adalah kafir. Jadi, bukan hanya umat Islam yang menganggap Ahmadiyah salah, tapi Ahmadiyah justru menganggap umat Islam selain mereka itu salah.

Rabasa ternyata tidak banyak tahu tentang kepercayaan Ahmadiyah. Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan. “Let’s talk something else,” katanya.


Blasphemy adalah istilah yang digunakan untuk penistaan agama di Barat. Kata blasphemy dalam Online Etymology Dictionary, © 2001 Douglas Harper disebut sebagai berasal dari bahasa Prancis, blasfemie; asalnya dari bahasa Latin blasphemia atau bahkan dari Yunani blasphēmein. Artinya irreligious, pernyataan, perkataan jahat atau menyakitkan, terkadang juga diartikan bodoh.


Secara definitif blasphemy adalah kejahatan menghina atau menista atau menunjukkan pelecehan atau kurang menghargai Tuhan, agama, ajarannya, serta tulisan-tulisan-tulisan mengenainya. Juga berarti sikap menghina terhadap sesuatu yang dianggap sakral. (Merriam-Webster's Dictionary of Law, © 1996). Menurut The American Heritage, blasphemy adalah aktivitas, pernyataan, tulisan yang merupakan penghinaan, irreligius, mengenai Tuhan atau sesuatu lainnya yang sakral.


Dalam the Random House Dictionary dan The American Heritage menganggap seseorang sebagai Tuhan atau mengaku memiliki kualitas seperti Tuhan termasuk blasphemy. Pengertian Easton Bible Dictionary (1897) bahkan lebih detail lagi. Blasphemy termasuk mengingkari adanya Roh Kudus, Bible, kemessiahan Jesus atau menganggap mukjizat Jesus itu sebagai kekuatan setan.


Hanya masalahnya, orang-orang liberal sekuler menuduh para pemeluk agama-agama telah membatasi kebebasan berpendapat. Agama, menurut mereka, menggunakan dalih blasphemy, penistaaan, bid’ah, musyrik, tabu dan sebagainya untuk membungkam pikiran mereka. Itu pun, dalam persepsi mereka, para agamawan hanya membatasi hak memahami agama pada otoritas keagamaan (ulama, pendeta, sami, dan sebagainya). Di sini agama menjadi buruk muka dan diposisikan sebagai pemasung kebebasan.


Inti masalahnya ada pada worldview masing-masing. Di Barat agama-agama memiliki alam pikirannya sendiri. Sejarahnya, memang selalu bentrok dengan masyarakat Barat, khususnya masyarakat ilmiah (scientific community).


John Milton, sastrawan dan penulis politik Inggris pernah bentrok dengan parlemen. Itu gara-gara brosur buatannya yang liar, tidak bertanggung jawab, tidak masuk akal dan ilegal. Tapi Milton membela diri. Katanya, kesatuan suatu bangsa diperoleh melalui gabungan pendapat individu yang berbeda ketimbang homogenitas yang dipaksakan. Kemampuan menggali ide-ide cemerlang diperlukan dan kebenaran tidak dapat dicapai kecuali dengan merujuk semua pendapat orang.


Jadi, bagi pemikir non-agama, kebenaran tidak harus melalui otoritas keagamaan. Milton bahkan menambahi pembelaannya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam kompetisi terbuka.


Tapi siapa yang akan menentukan sesuatu itu benar dan salah? Menurut Milton bukan individu, tapi gabungan pendapat individu-individu. Katakanlah kebenaran ditentukan oleh suara mayoritas. Sekilas orang bisa terima, tapi ternyata ini bermasalah. Sebab bagi Milton, meski mayoritas telah bersuara, setiap individu dibebaskan untuk menemukan kebenaran mereka sendiri-sendiri. Jadi teori Milton masih problematik, karena tidak ada standar kebenaran. Kebenaran itu tergantung pada individu masing-masing.


Kebebasan mencari dan menentukan kebenaran gaya Milton tetap saja akan memihak. Nah, tapi Noam Chomsky mencoba merumuskan begini: "Jika Anda percaya pada kebebasan berbicara, Anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak kau sukai." (If you're in favor of freedom of speech, that means you're in favor of freedom of speech precisely for views you despise). Tapi kenyataannya Stalin dan Hitler yang mengaku mendukung kebebasan berbicara, hanya mendukung pendapat yang mereka sukai saja.


Kembali ke soal blasphemy. Jika orang melakukan penistaan agama dengan dalih kebebasan berfikir dan berpendapat, maka rumus Milton perlu digunakan. Serahkan ketentuan benar dan salah pada suara mayoritas yang berilmu tentang itu. Bukan kepada individu tapi kepada komunitas, dan ini harus mengikat individu.

Hamba Fatalisme Barat

Saya rasa lama sudah tidak berkongsi cerita hidup dilaman sawang ini.perlukah?.Saya hanya lagi sebulan untuk melangkah kegerbang lain yang bagi saya cukup menarik diselongkar anehnya.Mungkin juga banyak agenda disana.Pastinya saya merasa sungguh sedih untuk meninggalkan bumi tarbiyyah bagi saya walaupun tidak layak bersama teman-teman yang hebat.Saya sangat menghormati segala pandangan teman-teman walaupun jelas banyak perbezaan.Apapun saya teringat kata seorang senior yang kini di irbid jordan fahamnya mesti pandang kehadapan jika terus toleh kebelakang melihat yang remeh pasti tidak kemana ataupun bahasa mudah "futur".


Apapun pembacaan berat dan penguasaan media amat saya seriuskan lebih-lebih lagi pendokong gerakkan islam yang mempunyai cita-cita yang besar.Mereka harus lebih faham akan perkara ini tetapi kenapa mereka sering menanti arahan kepada AMIR ataupun yang ketua pimpinan untuk baru bergerak membudayakan ini.Satu sifat simplistik yang sering difahami ini tidak lagi akan melahirkan gerakkan yang hebat.Suatu ahli yang berani dan bersedia untuk memasukki gelanggang rentak lawan sebaliknya kita dicucukkan rentak lawan.

BUDAYA FATALISME

Melihat secara baiknya mahasiswa islam sudah banyak diringankan mindanya dalam banyak perkara.Sebab itu saya melihat banyaknya perkara ringan dijadikan isu berat hakikatnya ianya merupakan gula-gula dari barat sahaja kepada kita.Dari situ timbul sifat untuk mengkaji secara serius berkaitan isu permasalahan yang terjadi kepada dunia islam mahupun barat sudah brjaya ditutupkan secara konkritnya oleh barat.Faham sini bahawa Ia tengah dibaratkan (westernized) dan dicongkel dari akarnya sehingga nilai-nilai, kearifan, dan identiti aslinya terkoyak menjadi potongan-potongan kecil yang terkontaminasi dengan produk kebudayaan Barat. Barat telah berhasil mengkristalisasikan sentimen-sentimen,pandangan serta pola pemikiran kedalam karakter kebudayaannya dan mencekokkannya kepada bangsa-bangsa lain.Nampak disini mereka yang arif pada agama telah juga berserah pengawalan hidupnya kepada barat.Jika pemikiran generasi muda perlahan-lahan direbus oleh konstruk pseudokebudayaan dan toxic peradaban Barat yang materialistik dan hedonis, susah sekali mengharapkan perubahan positif muncul dari generasi seperti mereka.


Nampak juga kita telah berjaya dikelirukan kefahaman oleh puak-puak "neo" yang tumbuh sarat globalisasi ini kerana masing-masing membawa bentuk hegemoni songsang kedalam menyesatkan umat islam sendiri.Homogenisasi kebudayaan dan peradaban inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi umat Islam sebagai pengembah wahyu illahi. Negera-negera islam yang pada umumnya masih menjadi mayoritas tertindas (the oppressed majority) dalam keterpurukan ekonomi, politik, dan sosial, ditambah dengan rendahnya intelektualitas, mengambil produk kebudayaan, teknologi, dan peradaban Barat ke dalam tanah air sebagai ikon modernisasi.Mungkin benar cara pandang islam kita telah dirosakkan dengan cara pandang barat sehingga kita keliru dimanakah yang benar.Kita keliru dengan kemajuan yang dibawa barat hari ini.Juga kita keliru indetiti kita hari ini kerana krisis diri akan faham agama dan faham islam.Dengan itu kita melihat islam agama perlu dimajukan walhal tiada istilah maju dalam islam kerana islam sememangnya sudah maju.Kita juga keliru dengan pembangunan yang tinggi itu kita sanjungkan kemajuan hasil teknologi falsafah sains barat yang sudah songsang.

Dengan logika-logika tersebut di atas, masalah dunia Islam dewasa ini nyata tertumpu kepada satu titik, iaitu ketergantungan yang teramat besar terhadap Barat.Sebagian besar masyarakat Muslim telah mengalami keruntuhan dalam banyak sisi.Cara pandang, gaya hidup,kecenderungan berfikir, pilihan hidup, semua menuju kubangan besar yang bernama “hedonisme” dan saudara kembarnya,“materialisme”. Dunia Muslim telah dikoyak-koyak oleh kekuatan Barat.Sedarkah kita suatu agenda fatalisme sudah lama merebak dibenak pemikiran kita sehingga kita mampu menghasilkan fatalisme sebuah peradaban.Masyarakat dunia secara umum sedang menderita westruckness dan westoxication meminjam istilah Ali Syari’ati—kebangkrutan moral ala Barat dan mabuk kepayang terhadap Barat.

Sekian





p/s:Baru-baru ini saya telah mengikuti kuliah siri(1) epistemologi melayu,barat dan islam oleh Dr Alinor.Masih tidak mampu untuk berkongsi dalam blog ini cumanya maklumat ataupun perkongsian untuk mengetahui lebih baik berkaitan epistemologi ini baiknya untuk klip sahaja di sini

Mengapa Orang Bukan Islam Tidak Berhak Menggunakan Nama Allah: Tanggapan Terhadap Golongan Yang Membenarkan oleh Dr Khalif Muammar

Kedudukan Masalah


Setelah isu ini dibahas hampir dua tahun masih ramai lagi yang keliru tentang penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam. Antara sebabnya ialah wujudnya pandangan yang diberikan oleh beberapa cendekiawan yang digelar ulama’ yang mengatakan bahawa terdapat dalil dalam al-Qur’an yang membenarkan hal tersebut. Dan tiadanya dalil yang menyokong larangan penggunaan oleh bukan Islam. Penulis telah berkesempatan untuk mengikuti isu ini dan memberi tanggapan sejak dari awal lagi dan menghasilkan 3 artikel sebelum ini yang boleh dicapai dalam khairaummah.com. Dalam makalah terakhir ini penulis cuba menjawab keraguan-keraguan yang ditimbulkan dan memberikan hujah-hujah yang muktamad agar kecelaruan tidak berterusan dan kepentingan umat Islam dapat dipertahankan. Dengan penjelasan yang terbaik yang penulis dapat paparkan ini mudah-mudahan terbuka hati dan bertambah yakin orang-orang yang inginkan kebenaran berdasarkan hujjah dan biarkanlah tertutup hati orang-orang yang tidak mahu menerima kebenaran walaupun datang dengan hujjah.


Sebelum pergi jauh perlu difahami terlebih dahulu maksud persoalan di atas. Ia bukan persoalan tentang siapakah Tuhan orang bukan Islam, kerana jelas bagi kita Tuhan bagi semua umat manusia hanya satu iaitu Allah. Ia juga bukan berkaitan dengan orang Arab bukan Islam di negara-negara Arab kerana persoalan ini muncul dalam konteks Malaysia, dan hanya relevan dengan negara-negara bukan Arab. Maka maksud persoalan di atas adalah merujuk kepada orang bukan Islam di Malaysia bukan di negara-negara Arab. Perbezaan konteks ini sangat penting kerana ia juga bermakna perbezaan bahasa yang digunakan oleh bangsa yang berlainan. Orang bukan Islam di Malaysia tentunya bukan orang Arab. Dari sini sahaja dapat disimpulkan bahawa penggunaan nama Allah bagi orang bukan Islam di Malaysia tidak relevan kerana mereka tidak pernah menggunakannya bahkan tidak mengerti pun maksudnya. Orang bukan Islam di Malaysia tidak mengenal bahasa Arab, maka perkataan Allah adalah perkataan yang asing dalam kehidupan mereka.


Perlu juga ditegaskan dengan kalimat ‘menggunakan’ di atas yang dimaksudkan adalah menamakan atau menggunakan nama Tuhan orang Islam bagi merujuk Tuhan mereka. Di sini dapat disimpulkan bahawa faham pluralisme agama terkandung dalam usaha ini. Daripada perkataan ’menggunakan’ di atas maka tidak timbul isu sekadar penyebutan nama Allah oleh bukan Islam dengan maksud merujuk kepada Allah sebenar. Tidak sepatutnya timbul pernyataan apa salahnya orang bukan Islam menyebut nama Allah kalau yang dimaksudkan itu benar. Mereka boleh sahaja menyebut, membaca, nama Allah yang menjadi persoalan di sini adalah penggunaan istilah yang sama / pemberian nama yang sama bagi Tuhan yang berlainan.


Jika persoalan telah jelas difahami dengan betul maka jawaban terhadap persoalan juga diharapkan akan lebih terfokus. Untuk memudahkan lagi orang awam boleh juga dipertanyakan dalam bentuk yang sedikit berbeza iaitu bolehkah orang bukan Islam menamakan Tuhan mereka Allah?


Terdapat kecenderungan di kalangan umat Islam, tidak terkecuali ulama’nya, untuk menyederhanakan persoalan rumit dan besar ini. Bagi sesetengah orang ini hanyalah persoalan perebutan nama. Atau ia hanyalah berkaitan dengan sebutan, luaran yang tidak perlu dihubungkaitkan dengan persoalan Akidah dan keyakinan umat Islam. Menurut prof. Wan Mohd Nor walaupun kelihatan masalah nama dan bahasa ini sederhana tetapi melalui bahasalah pandangan alam (worldview) terbentuk. Perubahan pada bahasa dengan merubah maknanya akan memberi kesan yang besar kepada perubahan pandangan alam dan seterusnya keyakinan dan amal ibadah orang Islam.

Tentang Orang Arab Bukan Islam Yang Menggunakan Nama Allah

Untuk menjawab persoalan ini pertama sekali perlu dijelaskan bahawa konteks masyarakat Melayu dengan masyarakat Arab berbeza. Perkataan Allah adalah perkataan Arab yang telah wujud sebelum kedatangan Islam oleh nabi Muhammad saw. Orang bukan Islam yang datang ke negeri Arab, baik Yahudi mahupun Nasrani, telah menggunakan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan mereka selama lebih 1400 tahun yang lalu kerana bahasa Arablah bahasa yang mereka gunakan. Jika orang bukan Islam dalam masyarakat Arab hari ini masih menggunakan nama Allah maka hal ini wajar dalam konteks tersebut, kerana mereka tidak mengalami Islamisasi dan sehingga ke hari ini masih mengguanakan bahasa Arab. Dalam konteks Malaysia yang bahasanya bukan bahasa Arab, dan orang bukan Islam yang bukan orang Arab, maka penggunaan nama Allah oleh mereka adalah sesuatu yang janggal. Sesuatu yang dipaksakan, yang sengaja ditimbulkan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Oleh itu jika di negara-negara Arab hal ini dibenarkan, melihat kepada fakta sejarahnya, ia tidak boleh dijadikan ukuran untuk membenarkan hal yang serupa berlaku di Malaysia dan di negara-negara bukan Arab.


Sesetengah orang Islam yang keliru dalam menanggapi isu ini berhujah bahawa dalam al-Qur’an ada disebutkan bahawa orang Yahudi mendakwa ‘Uzair itu anak Allah’, dan orang Nasrani mendakwa bahawa ‘al-Masih itu anak Allah’ (lihat surah al-Tawbah: 30). Sebenarnya jika diperhatikan dengan teliti dan dengan mengambil kira perbezaan bahasa, yang mereka katakan sebenarnya tidaklah betul-betul sama seperti itu, kerana dalam bahasa mereka, iaitu bahasa Ibrani, perkataan yang mereka gunakan sebenarnya adalah Uzair itu anak Tuhan (Yahweh/ Elohim), dan al-Masih itu anak Tuhan (Yahweh/ Elohim), tidak ada perkataan Allah dalam bahasa mereka. Al-Qur’an sebenarnya menterjemahkan kata-kata mereka yang tentunya bukan dalam bahasa Arab tetapi dalam bahasa mereka sendiri, iaitu Ibrani, untuk difahami oleh orang Arab atau orang Islam. Oleh kerananya perkataan yang digunakan adalah Allah kerana Allah dari segi bahasa adalah Tuhan. Penggunaan dalil seperti ini oleh golongan ini menunjukkan sikap yang sembrono dan kurangnya kehati-hatian.


Sememangnya Allah adalah Tuhan semua nabi dan rasul. Tetapi Allah bukanlah Tuhan yang disembah oleh orang Yahudi dan Nasrani. Dengan penyelewengan yang berlaku dalam agama tersebut mereka tidak lagi beriman kepada Allah. Jadi mereka tidak boleh mendakwa diri mereka beriman kepada Allah. Maka dari itu sesuatu yang melambangkan ketidakcerdasan dan kenaifan apabila ada sesetengah orang berkomentar dalam isu ini “al-hamudillah, akhirnya orang bukan Islam percaya Allah itu Tuhan mereka”. Di sinilah pentingnya kita memahami iman, Islam dan Din dengan mendalam. Sebagaimana ditegaskan oleh al-Attas, iman dan Islam tidak hanya cukup dengan dakwaan percaya kepada Allah tetapi mestilah tunduk dan patuh dengan sebenar-benarnya (real submission and true obedience) kepada perintah dan suruhan Allah dengan mengikuti Rasulullah saw (al-Attas, Prolegomena: 54-56).


Untuk memahami dengan baik ayat-ayat al-Qur’an berkaitan nama Allah, perlu difahami terlebih dahulu bahawa dalam al-Qur’an ada dua bentuk penggunaan perkataan Allah, pertama yang umum merujuk kepada maknanya dari segi bahasa; kedua yang khusus merujuk kepada penggunaannya secara teknikal (istilahi). Hal ini tidak ekslusif pada kalimah Allah sahaja tetapi juga kalimah-kalimah lain seperti solat, bahkan kufur juga. Penggunaan yang umum biasanya merujuk kepada masyarakat bukan Islam. Sedangkan penggunaan yang khusus merujuk kepada pemahaman masyarakat Islam yang telah dibentuk akidah mereka. Penggunaan yang khusus lebih banyak daripada penggunaan yang umum, ini selaras dengan banyaknya ayat-ayat yang turun merujuk kepada tahap intensif Islamisasi. Tahap Islamisasi yang intensif sebenarnya berlaku di Makkah lagi apabila konsep-konsep mendasar dan penting dijelaskan dengan panjang lebar. Dalam konteks inilah ayat-ayat seperti dalam surah al-Ikhlas, al-Kafirun, ayat Kursi dll. diturunkan agar konsepsi yang jelas tentang Tuhan dapat difahami dan dihayati oleh kaum Muslimin.


Umat Islam yang telah mengalami proses Islamisasi, baik di Arab mahupun di alam Melayu, mempunyai konsepsi yang jelas tentang Allah. Konsepsi yang jelas ini adalah kesan proses Islamisasi selama lebih 1400 tahun di Arab dan lebih kurang 1000 tahun di alam Melayu. Islamisasi berlaku apabila nama-nama atau istilah-istilah yang telah wujud sebelum Islam diberikan makna baru. Proses Islamisasi ini telah menjadi garis pemisah antara Islam dengan kufur. Dalam konteks nama Allah ini Islamisasi telah memisahkan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain. Walaupun ia adalah sebuah nama bagi Tuhan, tetapi ia bukan sembarangan nama kerana maknanya sarat dengan perbezaan teologi yang mendasar dengan nama-nama tuhan yang lain. Adalah sesuatu yang malang jika umat Islam membenarkan orang bukan Islam, sedangkan ia berkuasa untuk melarangnya, konsepsi tentang Allah ini menjadi dangkal kembali. Jika ini berlaku bermakna umat Islam hari ini telah membenarkan berlakunya deislamisasi. Suatu langkah mundur 1000 tahun ke belakang. Kalimah la ilaha illa Allah yang bermaksud tiada tuhan melainkan Allah, dengan pendangkalan makna di atas maka kalimat tauhid ini akan bermaksud tiada tuhan melainkan Tuhan, walaupun bukan ini yang dikehendaki dalam Islam dan oleh para ulama’nya tetapi inilah maksud yang sah pada mata umum. Dengan demikian kalimah Tawhid yang seharusnya mempunyai kesan dan implikasi yang besar dalam kehidupan seorang Muslim akan menjadi bertindih, wujud percanggahan (incoherence) dan tidak memberi makna yang signifikan.

Masyarakat Jahiliyyah yang Menyebut Allah.


Golongan literal dan tekstualistik ini juga menyandarkan hujah mereka kepada ayat al-Qur’an Surah al-Zumar: 38 yang bermaksud “Dan Demi sesungguhnya! jika Engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah Yang mencipta langit dan bumi?" sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah".”


Memang pada zahirnya ayat tersebut menyatakan bahawa orang Quraish jahiliyyah pada hakikatnya percaya bahawa Allah adalah Tuhan mereka. Namun sebagaimana disebutkan di atas yang dimaksudkan dengan kalimah Allah di atas bukan kata khusus tetapi kata umum. Faktanya, kalimah Allah telah digunakan oleh masyarakat Jahiliyyah sejak sebelum Islam, maka tidak mungkin al-Qur’an menggunakan perkataan lain bagi merujuk kepada Tuhan. Jadi ketika ia menceritakan apa yang dipercayai oleh orang bukan Islam maka al-Qur’an mengatakan bahawa mereka percaya akan wujudnya Tuhan, bahawa Tuhan lah yang menciptakan segalanya. Ini kerana secara alamiahnya konsep Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak mereka dilahirkan di dunia. Tawhid datang melalui para Rasul untuk mengajarkan umat manusia siapa Tuhan itu sebenarnya. Dengan risalah Tawhid ini manusia dibebaskan daripada kepercayaan politeisme, dinamisme dan animisme. Kedatangan nabi Muhammad saw walaupun sebagai kesinambungan dari nabi-nabi sebelumnya tetapi juga untuk meluruskan penyimpangan akidah dalam agama Yahudi dan Nasrani. Jadi penggunaan nama Allah oleh masyarakat Jahiliyyah adalah penggunaan yang umum yang hanya bermaksud Tuhan kerana demikianlah erti Allah dari segi bahasa. Tetapi setelah kedatangan Islam penggunaan umum ini tidak relevan bagi masyarakat Islam dan masyarakat bukan Islam yang bukan Arab pada hari ini. Maka ayat di atas sebenarnya tidak sama sekali membenarkan orang bukan Islam di negara ini menggunakan nama Allah untuk Tuhan mereka. Kerana Arab jahiliyyah telah memiliki kalimah Allah ini sebelum Islam datang sedangkan orang bukan Islam di negara ini, dan di negara selain Arab, tidak mengenal kalimah ini. Kesimpulannya adalah satu pembohongan apabila ada yang mengatakan bahawa terdapat dalil yang membenarkan orang bukan Islam menggunakan nama Allah.

Bahaya Pendekatan Literal dan Tekstualistik

Terdapat kekeliruan yang besar apabila sebahagian ilmuwan dan orang awam cenderung mempertanyakan dalil atau nas bagi setiap persoalan yang timbul. Kelompok literal dan rigid ini ketika melihat ada sebahagian ayat al-Qur’an yang secara literalnya seolah-olah membenarkan penggunaan nama Allah oleh bukan Islam maka secara terburu-buru tanpa meneliti dengan mendalam maksud ayat-ayat tersebut dan perbezaan konteksnya lalu terus mengambil kesimpulan bahawa orang bukan Islam boleh menggunakan nama Allah.


Perlu dijelaskan bahawa tidak semua persoalan perlu ditanyakan apakah dalilnya, jika ada nas maka barulah sesuatu dapat diperkatakan jika tidak maka ia hanyalah pandangan yang relatif, boleh ditolak atau diterima. Hakikatnya selain nas, ada ilmu yang diwariskan oleh para ulama. Inilah yang dimaksudkan bahawa ulama itu pewaris nabi. Bahawa mereka itu mewariskan ilmu yang diperolehi oleh nabi (hadith). Kelebihan ilmu ini jugalah yang membezakan si jahil dengan orang alim. Orang jahil boleh sahaja berhujah dengan ayat dan hadith tetapi dia tidak tahu pasti bagaimana ayat dan hadith itu difahami dan digunakan.


Kita tahu bahawa ayat-ayat al-Qur’an terhad dan permasalahan yang timbul sentiasa bertambah. Seorang mujtahid, ulama atau pemikir, perlu dapat memberikan jawapan bagi setiap persoalan berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadith yang terhad itu. Di sinilah letaknya kedinamikan Shari’ah, sehingga ia sesuai diterapkan sepanjang masa. Mereka harus dapat merumuskan prinsip-prinsip baik tersurat mahupun tersirat daripada al-Qur’an dan Sunnah. Berdasarkan prinsip-prinsip inilah mereka cuba menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang timbul. Oleh itu kemampuan yang perlu ada pada seorang mujtahid bukanlah mengeluarkan ayat-ayat atau hadith dalam menanggapi sesuatu persoalan tetapi kebijaksanaan yang terbit dari kefahamannya yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Sunnah serta karya-karya ulama terdahulu (al-Turath).


Malangnya hari ini yang berpandukan kepada kewujudan dalil bukan hanya orang awam tetapi mereka yang mendabik diri mereka ulama. Mereka mencari dalil, walhal ini adalah persoalan baru yang memerlukan pemikiran yang mendalam. Sepatutnya yang ditanyakan bukan apakah dalilnya tetapi apakah hujahnya? Ketika suatu persoalan itu tidak ada dalil yang qat’i mengenainya tidak bermakna kita tidak memiliki hak untuk memberikan kata putus dalam hal tersebut. Oleh kerana itu dalam persoalan nama Allah ini ulama fiqh bukan pakarnya. Mereka terbiasa dengan pencarian dalil dalam mengistinbatkan hukum. Ini persoalan usuluddin atau ilmu tawhid. Seseorang yang ingin membahas isu ini perlu menguasai teologi, ilmu kalam, epistemologi Islam, falsafah Islam dan metafizik Islam. Persoalannya bukan apakah hukumnya halal atau haram tetapi lebih penting dari itu apakah kesannya terhadap akidah seorang Muslim? Walaupun sepatutnya mujtahid menguasai kedua bidang ini, Shari’ah dan Usuluddin dengan baik, namun realitinya pada hari ini jarang hal itu berlaku.

Kepentingan Ilmu Kebijaksanaan

Menyedari kerumitan masalah ini dan skopnya yang melampaui hukum-hakam, maka ilmuwan Fiqh bukanlah orang yang patut menjadi rujukan dalam persoalan ini. Kecenderungan hari ini menampakkan bahawa ulama fiqh dapat menjawab segala persoalan. Ataupun semua persoalan adalah persoalan fiqh. Hakikatnya tidak semua persoalan dapat dikategorikan sebagai hukum hakam dan bukan semua persoalan dapat dipecahkan dengan kaedah fiqh. Persoalan nama Allah ini menunjukkan bahawa ada perkara-perkara yang memerlukan kepada kekuatan hujah yang memerlukan perenungan, kefahaman yang mendalam dan kebijaksanaan yang tinggi dan bukan hanya pencarian dalil dan pemahaman yang literal.


Tampak jelas bahawa terdapat kecenderungan yang meluas ketika ini sikap literal dan tekstualistik dalam memahami Islam. Golongan ini kononnya mengikuti hanya al-Qur’an dan al-Sunnah dan tidak merasa perlu untuk mengikuti pandangan para ulama. Golongan pseudo-salafi ini mengatakan jika tiada nas atau dalil maka apapun yang diutarakan hanyalah pandangan yang relatif kerana ia berdasarkan kepada akal fikiran manusia yang boleh ditolak dan boleh diterima. Sebenarnya dalam banyak hal kita perlu menggunakan kebijaksanaan kita dan bukan bersikap literal dan tekstualistik. Tidak semua perkara perlu dikemukakan soalan apakah ada dalil atau nas tentang hal itu? Jika tiada maka kita tidak berhak mengatakan ianya tidak boleh. Kalau ada dalil, yang secara zahirnya membenarkan, tanpa perlu melihat maksud dan konteksnya maka keputusan terus diambil tanpa berfikir panjang. Tidak wajar ditanyakan contohnya apakah dalilnya pluralisme agama haram, liberalisme, feminisme dsb? Sikap literal dan tekstualistik ini menyebabkan sebahagian orang bersikap ekstrim dan rigid (kaku) contohnya segolongan mengongkong isteri mereka dari keluar rumah, dengan alasan adanya nas al-Qur’an yang memerintahkan seperti itu. Ada yang berpandangan bahawa kerana ilmu itu milik Allah, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, maka cetak rompak dan plagiarisme dibenarkan. Bahkan golongan ekstrimis yang banyak melakukan keganasan juga menggunakan ayat al-Qur’an yang menyuruh membunuh orang kafir tanpa memahami konteksnya dan dalam keadaan apa ayat itu berlaku. Semua pendekatan ini sangat bersalahan dengan suruhan al-Qur’an dan di samping itu akan memberi kesan negatif kepada kebijaksanaan orang Islam.


Islam memberi tempat yang sewajarnya kepada akal fikiran (human intelligence). Yang dimaksudkan di sini bukanlah reason dan hubungannya denga rasionalisme falsafah yang berkembang di Barat. Mengenai rasionalisme Barat yang menjadi pegangan golongan liberal dan modenis ini penulis telah jelaskan dalam buku tersendiri (Lihat Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, 2006 dan 2009). Adapun kedudukan dan kepentingan akal dalam Islam telah dijelaskan oleh ulama’-ulama muktabar. Imam al-Ghazali antara lain mengatakan:
“Akal itu umpama penglihatan yang selamat dari cacat cela, dan al-Qur’an itu umpama matahari yang menyinari jagat raya, dengan keduanya seseorang dapat memperolehi hidayah. Seorang yang mengambil salah satunya tergolong dalam orang-orang yang bodoh, orang yang menolak akal hanya cukup dengan cahaya al-Qur’an sama kedudukannya dengan orang yang mendapatkan cahaya matahari tetapi menutup hati, maka tidaklah berbeza dia dengan orang yang buta. Maka akal dengan Shara’ adalah cahaya di atas cahaya”. (Al-Iqtisad fi al-I’tiqad: 4).
Kecenderungan golongan pseudo-salafi yang anti akal ini sebenarnya tidak mempunyai akarnya dalam tradisi Islam. Bahkan Ibn Taymiyyah yang mereka angkat sebagai imam Salafiyyah tidak mempunyai sikap sedemikian. Ibn Taymiyyah sepakat dengan al-Ghazali tentang kepentingan akal ini. Ibn Taymiyyah mengatakan:
“Akal itu syarat dalam mencapai ilmu pengetahuan dan kesempurnaan amal soleh, dengannya akan sempurna ilmu dan amal. Ia seperti kuatnya penglihatan bagi mata maka ketika bertemu dengan cahaya iman dan al-Qur’an maka umpama bertemunya cahaya mata dengan cahaya matahari dan api dan jika mencukupi dengan salah satunya tidak akan dapat seseorang itu memahami segala sesuatu”. (Majmu’ Fatawa: 3:338).
Bahkan ulama’-ulama usul fiqh sendiri mengiktiraf penggunaan akal apabila mereka menjadikan qiyas, istislah, istihsan, masalih mursalah, dan sadd al-zari’ah sebagai sumber hukum sekunder. Di sinilah bermulanya perbezaan antara golongan pseudo-salafi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah di mana golongan pseudo-salafi ini cenderung rigid terhadap nas dan menolak penggunaan akal dan kebijaksanaan.


Kelompok yang membenarkan orang bukan Islam menggunakan nama Allah kemudian mengenakan syarat kepada orang bukan Islam supaya tidak menyalahgunakan kebenaran tersebut untuk mengkristenkan orang Islam. Ada juga yang memberikan panduan bagaimana orang bukan Islam menggunakan nama Allah. Justeru ini membuktikan adanya kecelaruan (incoherency) dalam cara berfikir mereka.

Pertama sekali tidak ada alasan orang bukan Islam untuk mendengar nasihat kelompok ini, kerana mereka sendiri tidak mewakili umat Islam apalagi untuk mempengaruhi orang bukan Islam. Kedua, sesuatu yang tidak masuk akal, melihat sejarah kristianisasi yang begitu dahsyat di alam Melayu ini, mereka akan akur dengan nasihat orang yang dikatakan ‘ulama’ ini. Orang Kristian telah memperjuangkan isu ini dengan bersungguh-sungguh dan mereka amat gembira apabila keputusan mahkamah tinggi memihak kepada mereka, sebahagiannya dikeranakan wujudnya perbalahan di kalangan ilmuwan Islam sendiri. Kemenangan ini bagi mereka menunjukkan kebenaran dakwaan mereka bahawa semua agama pada hakikatnya sama, menyembah Tuhan yang sama. Maka kebenaran menggunakan nama Allah akan menjadi satu pencapaian besar bagi orang Kristian. Hakikatnya ia akan memudahkan lagi proses kristianisasi orang-orang Islam. Kristianisasi ini walaupun tidak dibenarkan dari segi undang-undang tetapi telah berjaya memurtadkan ramai golongan remaja di negara ini.


Bagi umat Islam ia adalah satu kerugian yang sangat besar. Islam tidak akan rugi, berkurang atau rendah kerana hal ini tetapi umat Islam akan semakin terhimpit. Kefahaman masyarakat terhadap akidah Islam akan semakin menipis. Kekeliruan akan semakin merajalela. Kerana dari bahasa pandangan alam akan berubah. Deislamisasi banyak berlaku melalui proses pendangkalan makna. Pendangkalan seperti Islam hanya kepada berserah diri, iman hanya menjadi percaya kepada Allah. Oleh kerananya ramai orang bukan Islam mengaku diri mereka muslim dan mukmin (dengan m kecil), kerana mereka juga berserah diri dan percaya kepada Allah, yang kini cuba didangkalkan maknanya hanya bermaksud Tuhan.


Kecelaruan dalam masalah ini timbul kerana ulama’ fiqh yang tidak berautoriti terburu-buru memberikan pandangan mereka berdasarkan pengetahuan dan kemahiran mereka yang terbatas itu. Seharusnya mereka dapat menahan diri mereka dari memperkatakan sesuatu yang mereka tidak pasti, dan mengakui keterbatasan ilmu yang mereka miliki. Pandangan yang sembrono ini dapat merugikan umat Islam dan menimbulkan lebih banyak kekeliruan. Mereka juga sepatutnya menghormati pandangan ilmuwan yang lebih berautoriti, dan berwibawa dalam bidang yang lebih relevan iaitu ilmu usuluddin, atau ilmu tawhid. Tidak seperti zaman dahulu, pengkhususan yang menjadi ciri pendidikan hari ini menyebabkan ulama fiqh tidak menguasai dengan baik ilmu usuluddin, begitu juga sebaliknya. Kerana itu penting untuk setiap ilmuwan memahami keterbatasan bidang masing-masing dan menyerahkannya kepada orang yang lebih layak untuk dirujuk. Inilah yang disebut sebagai adab, yang bukan sahaja perlu ada pada penuntut ilmu tetapi juga pada para ilmuwan kepada ilmuwan yang lebih tinggi derajatnya. Jelas bagi saya bahawa kecelaruan dalam masalah ini menunjukkan semakin parahnya fenomena kehilangan adab di kalangan umat Islam tidak terkecuali golongan cendekiawannya.


Perlu juga ditegaskan penekanan kepada adab di sini bukan untuk menghalang ijtihad di kalangan ilmuwan tetapi menegaskan peri pentingnya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang ilmuwan yang memberikan pandangan dalam hal yang bukan kepakarannya tidak sama sekali dapat disebut sebagai ijtihad. Pandangan yang diberikan oleh ulama seperti ini sebenarnya bukan ijtihad. Pandangan seseorang ulama dikatakan ijtihad jika ia memiliki ilmu yang mencukupi dalam bidang tertentu dan berusaha dengan sebaik mungkin untuk memahami sesuatu persoalan sampai ke dalam dalamnya, barulah apabila dua syarat ini dipenuhi maka ia dikatakan ijtihad, jika tidak ia hanya boleh dianggap pandangan seperti pandangan orang awam. Hanya ijtihad sahaja yang jika salah sekalipun mendapat satu pahala, sedangkan pandangan yang mengelirukan boleh mendatangkan dosa khususnya apabila pandangan itu diberikan tanpa hati-hati, tanggungjawab moral dan ketaqwaan.


Penutup


Telah banyak pandangan ulama' besar dikemukakan. Al-Attas sejak tahun 80an, Wan Mohd Nor yang banyak dikutip oleh penulis, dan baru-baru ini Siddiq Fadzil dan Haron Din telah menjelaskan isu ini. Sepatutnya kewibawaan tokoh-tokoh ini sudah cukup untuk menjadi ukuran dalam memahami persoalan ini dan bukan populariti sesetengah orang yang dikatakan ulama’ itu. Isu ini adalah isu Akidah dan kedaulatan Islam. Ia lebih besar daripada isu politik. Perbezaan ideologi politik tidak harus membutakan hati nurani kita daripada mengenali kebenaran.

Isu penggunaan nama Allah oleh bukan Islam bagi saya melambangkan betapa seriusnya fenomena kehilangan adab di kalangan umat Islam, tidak terkecuali golongan intelektualnya. Adab di sini bukan hanya suatu sikap yang perlu ada bagi penuntut ilmu kepada gurunya, atau dari orang bawahan kepada orang atasan, tetapi yang paling mendasar adalah memahami dengan baik dan meletakkan sesuatu termasuk diri sendiri dan orang lain pada tempat yang yang wajar dan tepat. Agar yang tidak tahu menyedari ketidaktahuannya lalu mahu tahu dengan merujuk orang yang betul-betul tahu. Kita lihat bagaimana isu ini diperbincangkan tanpa merujuk kepada ilmuwan-ilmuwan yang berautoriti/ berwibawa dalam bidangnya. Ilmuwan-ilmuwan kecil yang cuba ber'ijtihad' tanpa menyedari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Terdapat ilmuwan yang mencampur adukkan politik dengan urusan agama sehingga kecenderungan politiknya mempengaruhi pandangannya dalam hal ini. Memang tidak mudah menahan diri dari mendapatkan political mileage apabila kemenangan pilihanraya banyak ditentukan oleh undi orang bukan Islam. Kerana itu ulama’-ulama’ muktabar tidak mahu terlibat dalam politik dan kepartian. Ramai juga yang cuba memperkatakan sesuatu dengan merujuk kepada sumber-sumber yang tidak jelas (seperti google, wikipedia dll), dan pengalaman bangsa asing, lalu mendakwa diri mereka tahu sesuatu dan menunjukkan diri mereka faham agama dan menghukum ulama’ yang berhati-hati sebagai kolot, tidak toleran dsb. Ada juga segolongan ilmuwan yang menangkuk di air keruh, ilmuwan palsu yang diangkat kerana rapat dengan penguasa, yang tidak dapat mempertahankan kebenaran ketika ia diserang dari pelbagai penjuru tetapi mendapat pujian dan pengiktirafan atas sesuatu yang bukan hasil usahanya. Jika kita umat Islam sendiri tidak jujur kepada Allah dan diri sendiri, mengapa mengharapkan pertolongan Allah dan ingin musuh-musuh Islam bersikap adil kepada umat Islam.

Setelah umat Islam bingung, keliru dan hilang pedoman maka dengan mudah faham-faham asing seperti sekularisme, liberalisme, pragmatisme, sinkretisme, pluralisme agama, neo-sofisme, saintisme, dll memasuki relung fikiran dan jiwa umat Islam. Faham-faham ini apabila telah merasuk diri sebahagian umat Islam akan menyebabkan mereka hilang keyakinan terhadap kebenaran Islam, skeptis terhadap Islam, merendahkan dan curiga terhadap para ulama’, bahkan tidak jarang juga yang memilih untuk menjadi ateis, agnotis atau murtad. Di sinilah tragedi bermula dan semuanya berpunca daripada kegagalan kita bersikap adil dan beradab terhadap Allah, agama-Nya dan diri kita sendiri.


** Penulis merupakan Felo Penyelidik di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia.

Rujukan

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972. Dan syarahan beliau sepanjang penulis berguru di ISTAC.

________. Islam and Secularism, diterbitkan oleh ABIM pertama kali pada 1978. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.

________. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 1995.

Al-Ghazali, Abu Hamid. al-IqtiÎÉd fi al-I‘tiqÉd. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1983.
Ibn Taymiyyah, Ahmad Abd al-Halim. Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah. Kaherah: Dar al-Fikr, 1983.

Khalif Muammar. Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, cetakan ke-2. Bangi: Institut Alam dan Tamadun Melayu, 2009.

________. “Isu Herald: Ketika Agama Diheret Untuk Kepentingan Politik” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=236&Itemid=105 (20 Januari 2008)

________. “Isu Nama Allah: Isu Akidah Bukan Perebutan Nama” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=246&Itemid=170 (14 Mei 2008)

________. ”Why Non Muslim Cannot Use the Word Allah” dalam http://khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=275&Itemid=1(2 Mac 2009)

Rahmah Ghazali, “Haron Speaks for Himself” dalam http://www.malaysiakini.com/news/121161

Siddiq Fadzil. ”Kontroversi Pemakaian Kalimat Allah: Suatu Pernyataan Keprihatinan” dalam http://www.wadah.org.my/kenyataan-media/54-info-wadah.html

Wan Mohd Nor Wan Daud. Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Pemikiran Bangsa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006. Juga perbincangan peribadi dengan beliau yang dilakukan hampir setiap harI

P/S:BACA JUGA
Kontroversi Pemakaian Kalimat Allah : Suatu Pernyataan Keprihatinan Oleh Dr siddiq fadzil

Christian Translation Of The Triune God Using The Term Allah :A Case Of Word Wrongly Used Prepared by:Dr. Mohd. Sani Badron
Prof. Al-Attas' view on the polemical usage of the word "Allah" by non-Muslims

Video: Hakikat Penggunaan Kalimah Allah oleh Orang Bukan Islam

Suatu Penjelasan(3)

Krisis yang berlaku terhadap umat islam hari ini sama ada dari sudut politik,pendidikan,ekonomi,perundangan mahupun moral adalah bermula dengan krisis pemikiran.Sedia maklum bahawa akidah adalah asas islam dan berperanan meluruskan pemikiran orang islam.Oleh itu perlunya di beri perhatian yang baik punca permasalahan itu.Perlunya proses islamisasi yang melihat banyak bentuk bukan di islamisasi hanya satu sudut sahaja.



Saya melihat al attas Berjaya menterjemahkan gagasan islamisasi dalam bentuk yang cukup konkrit berbeza Konsep Islamisasi yang pernah dibicarakan oleh sarjana-sarjana ulung lain seperti Seyyed Hossein Nasr,dan Fazlur Rahman yang dilakukan bukan berangkat daripada kajian epistemologis



melihat musuh yang utama ketika ini adalah sekularisme suatu pahaman barat yang Berjaya melumpuhkan masyarakat islam dunia hari ini perlu di lakukan suatu proses tindakbalas serangan ini yang telah yang telah di terjemahkan al ttas sebagai tindak balas desekularisasi (menyah-sekularisasikan) tumpuan proses Islamisasi bagi al-Attas adalah individu dan bukannya umat seperti yang ditekankan oleh al-Faruqi dalam konsep Islamisasinya.



Persoalannya kenapa saya begitu beriya-iya dalam mengambil gagasan al attas berbanding figure yang sedia ada saat kini?secara peribadinya saya mendokong banyak idea dan gagasan figure kontemporari cumenya saya melihat lebih konkrit yang ada pada al attas dalam merungkai segala permasalahan di atas.
Dan yang paling kasar kritikan adalah individu yang merpraktikkan adea dan mendokong idenya di anggap teorikal bukan praktikal semata-mata?



Dan secara baiknya saya mengatakan golongan yang mengkritik atas alasan tersebut adalah mereka yang terjerat dikotomis pemikiran asas dualisme sudah di tapak secara kuat pada akalnya menghasilkan sebuah hati akhirnya mencorakkan perlakuannya.Mereka tidak melihat mengubah pemikiran di anggap suatu praktikal kerana itu mereka bersahaja melihat pemikiran umat islam dinyahkan barat ataupun yang telah di ungkai oleh Ali Syariati sebuah masyarakat yang telah derita westrukness dan westoxication”. Akar permasalahan intelektual ummat Islam adalah kekeliruan mereka memahami sejumlah kata kunci seperti pandangan alam, agama, Allah s.w.t., ilmu pengetahuan, pendidikan, kebahagiaan, keadilan, kebijaksanaan, pembangunan .



Oleh kerananya, menurut al attas, perpecahan dapat diselesaikan apabila terdapat kesatuan pemahaman di antara sarjana Muslim tentang idea dan konsep fundamental yang berkaitan dengan agama Islam dan peradaban ummat. Analisis yang dilakukan oleh al-Attas ini memang sangat penting khususnya pada hari ini kita lihat kekeliruan dan penyelewengan dalam memahami Islam seringkali berpunca daripada perbezaan dalam memahami konsep-konsep penting dalam Islam seperti: ilmu, agama, epistemologi menurut Islam.



Saya tutup penjelasan ringkas ini dengan mencadangkan golongan ini membedah buku islam dan sekilarisme al attas mahupun dr majid irsan kaylani bukunya kebangkitan generasi salahuddin.

P/s: saya akan kongsikan kesenambungan kaitan permasalahan ini dengan ringkasan buku Ali Syariati” IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL SUATU WAWASAN ISLAM “

Suatu Penjelasan- (1)

Memahami dan melaksanakan islam dengan betul menjadi suatu cabaran yang hebat.Malah begitu sukar ketika di tengah-tengah kecelaruan pemahaman pemikiran mahupun ilmu.Begitu malang ianya di lihat dengan kekeliruan dan penyelewangan di barat mahupun dunia islam itu sendiri.Begitu hebat sandiwara kuasa penjajah memanipulasikan pemikiran moderat yang akhirnya terkubur dirinya hasil salah laku dan kefahamannya.

Saya mengambil masa yang agak lama untuk menamatkan bacaan dan pemahaman karya syed naquib al attas(sukar kerana bahasanya dan falsafahnya)dan di iringi karya intelektual muslim karya Ali syariati.
Atas kesedaran pentingnya kekeliruan mengenai islam perlu di hampuskan dan kebenaran mesti di perluaskan maka perlu sesuatu pencerahan gerakan di lakukan masa kini yang mampu membawa kepada renaissans ketiga.Kesegaran ilmu yang berasaskan konsep tauhidik mampu mengubat dasar permasalah yang berlaku kaum muslimin ketika ini.

KEKELIRUAN KAUM MUSLIMIN


Melihat kepincangan kaum muslimin ketika ini kerana kejahilan mengenai islam secara menyeluruh bahawa islam adalah agama yang sebenarnya yang mampu menghasilkan peradaban agung.
Mengambil permasalahan kaum muslimin ketika ini al attas merumuskan tiga faktor krisis punca permasalahan masa ini yang berpunca daripada kekeliruan mahupun kesilapfahaman ilmu yang menerjemahkan ketiadaan adab atau akhlak kalangan kaum muslimin akhirnya menghasilkan pemimpin yang palsu dan mengamalkan kehancuran di muka bumi ini.Tegas al attas bahasanya bermula krisis ilmu adalah dasar utama segala permasalahan ini.

Kekurangan adab hari ini membuka segala pintu segala pemahaman yang songsang hari ini dan akhlak yang tidak bertanggungjawap terhadap ilmu mahupun orang yang berilmu dan istitusi ilmu.
Malik bennabi seorang pemikir hebat islam telah menganalisis faktor penjajahan barat terhadap dunia islam melalui faktor luaran mahupun dalaman.Mengikut pandangan beliau bahawa faktor luaran seperti intelektual mahupun ekonomi Berjaya di tewaskan tetapi ianya dapat di halangi jika umat islam mempunyai kekuatan dalaman yang kuat.

PENGUASAAN BUDAYA TA’DIB

Seperti makalah-makalah yang sebelumnya saya amat menekankan penguasaan ilmu mahupun pembudayaannya.Saya percaya bahawa kuasa ilmu yang bertunjangkan tauhidik mampu mengubah segala kepincangan yang berlaku ke atas umat islam ketika ini.
Bahawasanya al quran telah menyebut berbanyak kali pentinya ilmu masih tidak menterjemahnya ke arah kebenaran malah melihat kaum muslimin keliru memahami sebaiknya lalu menggunakan acuan pemikiran barat yang semata-mata bertunjangkan akliah dan nafsu.

Tugas para reformis islam sebenarnya lebih berat memerlukan jihad intelektual yang besar .Maka saya berpendapat ‘tajdid’ ataupun islah yang menbawa kefahanman kepada pemikiran islam yang segar yang tidak menepikan bentuk tradisi keilmuan dan mempersembahkan kedalam bentuk yang lebih cergas dan segar segala nilai.
Kecacatan university ketika ini membangun dengan kehilangan semangat intelektualnya hasil mereka yang memandang ringan pembudayaan ini dan masih selesa di jajah dan peliknya melahirkan graduan yang boleh melakukan kemungkaran bangsa ,agama mahupun Negara

Hegemoni ini Berjaya memasuki minda mereka.

Awas gerakan islam yang berslogan ingin membawa islam.Kamu tidak mampu mencapai matlamat jika hanya menumpukan kepada gagasan tarbiyah semata-mata.Perlu di ingat bahawasanya penguasaan ta’dib yang seiring rata di perkuatkan untuk menjadi gerakan yang hebat di perjuangkan masa kini.Contohilah gerakan GULEN di turkey.
Saya tertarik andaian sahabat saya bagi mengukuhkan gerakan islam abad 22 akan tiba dengan mencapai sebuah gerakan yang hebat pendidikan seperti al ghazali,pemikiran al attas dan gerakan seperti gulen.

STATISME INTELEKTUAL

Saya terpaksa menepikan seketika hasrat untuk membaca dan meneliti beberapa buah buku yang baru di beli kerana untuk mengambil sedikit perhatian berkaitan penjelasan berkaitan budaya ilmu yang dikupaskan secara baiknya oleh seseorang yang di kagumi pastinya oleh saya iaitu DR.WAN MOHD NOR WAN DAUD.Saya juga tidak terlepas untuk berbincang dengan beberapa sahabat semestinya yang berlainan fikrah dan cara berfikir berbeza dengan saya kerana untuk mengambil pandang sisi yang berbeza.Secara keseluruhannya dan jelas saya mestilah mengubah bentuk cara berfikir dan mengejut golongan yang enak di buai tidor dengan memekakkan volume maksima di telinganya untuk mendengar suara-suara tangisan ummah di luar sana.Walaupun tinggi impian itu tetapi saya tidak boleh memaksa mereka untuk mengikut cara saya berfikir kerana saya mestinya menghormati cara mereka berfikir.Saya tidak layak untuk memarahi dan menghina orang lain barangkali orang itu akan menjadi lebih hebat suatu masa akan datang tetapi teguran atas dasar islam amat saya galakkan dalam pembinaan ilmiyah seseorang.

Saya tidak boleh memaksa orang lain untuk mengahabiskan pembacaan dam memaksa membaca tetapi sekadar peringatan dan natijah kebaikkan untuk orang itu.Oleh itu saya melihat hasilnya keintelektual mahasiswa islam hari ini terus mundur untuk kehadapan lebih maju dan terus di mandulkan oleh mereka-mereka yang berjiwa kecil dari terus bersuara dan bertindak dalam isu ummah hari ini.Sungguh hari ini suara liberisme semakin menyalak di lapangan dalam kita tidak pernah selesai bergaduh hal-hal kecil.Sedang hemegoni kuffar sedang bersenyum di luar sana tetapi kita asyik sibuk mendownload bahan-bahan picisan kuffar.Sedang sebenarnya kita sudah terkeliru oleh mainan kuffar.

Pastinya islam sangat memuliakan orang-orang yang berakal dan islam itu memuliakan dialog-dialog yang berakal dari jiwa yang segar perubahan kebangkitan islam.Oleh itu saya terus menulis bagai wadah usaha membuka minda daripada isme-isme maoden abad ini yang memesongkan minda terjajah.
Peradaban islam sungguh telah bersinar terang dari peradaban yang lain sehingga mencapai kemajuan ke peringkat kemuncak ketika para fuqaha telah berjaya mencari altenatif memasukkan sumber intelektual ke dalam peradaban selepas nilai intelektual telah mati suatu ketika dahulu.Jelas sekali di katakan penulis barat itu ALYAD WAMIBLY menyebutkan bahawa semua bidang islam itu telah di pelopori oleh cendikiawan islam yang menampilkan suatu ketika dahulu AR RAZI,IBNU SINA,NABAGH FIRNAS,AL BIRUNI,IBNU RUSYD.Semua itu telah berjaya kerana mengikuti peraturan islam yang benar.

Kaum Muslimin berjalan sehingga abad ke-4 hijrah sehingga pelita ilmu pengetahuan menjadi padam dek kerana terikat dengan kepuasan karya-karya terdahulu,tidak menambah penemuan-penemuan baru serta sifat angkuh kepada bangsa-bangsa yang lain dan tidak berani untuk maju kehadapan.Inilah yang di maksudkan dengan statisme intelektual yang di belenggu umat islam suatu masa dahulu yang pernah di doktrin oleh ajaran yang di bawah DAUD ASFAHANI yang berjaya membawa ajaran zahiri kedalam umat islam ketika itu.Ajaran yang mengamalkan zahir nahs semata-mata dengan mengetepikan kaedah qiyas.istimbat sesuatu nash memberikan kesempatan orang islam ketika itu menjadi malas untuk berijtihad.Saya melihat ajaran zahiri secara freemoson telah pun berjaya memasuki ke kampus saya walaupun tidak di sedari.Secara tidak langsungnya mematikan dan menutup budaya ijtihad ataupun intelektual.Hal ini telah menutup secara langsungnya budaya ilmu dan membuka ruang statisme intelektual,

PERKASAKAN BUDAYA ILMU

Hal ini banyak kali saya bangkitkan di dalam penulisan saya sebelum ini yang banyak menyentuh berkaitan dengan budaya ilmu.Sikap terhadap enteng budaya ini telah di buktikan oleh pemerintahan turki suatu masa dahulu yang leka kepentingan ini menjadi punca kejatuhan.Hal ini telah di rumuskan oleh SYED NAQUIB AL ATTAS sebagai kekeliruan dan penyelewengan dalam ilmu.Ia bependapat semangat nasionalis dan perpaduan jika tidak di kembangkan dengan ilmu akan menjadi alat memimpin secara kuku besi.Malang lebih keruh melahirkan cauvisme yang amat sempit.
RAYHAN ALBIRUNI menunjukukkan dirinya amat mementingkan ilmu walaupun di ambang kematian.Hal ini dapat di lihat ketika beliau meminta jawapan fikah setika ambang kematian.Menunjukkan beliau tidak mahu mati dalam kejahilan.Begitu juga yang berlaku kepada ABU HASSAN AL TAMIMI seorang yang buta tabah mencari ilmu sehingga menjadi ulama fekah.IBNU HAZM dan IBNU KHALDUN telah membuktikan bahawa kesenangan dan kemewahan bukan faktor untuk mematikan usaha mencari ilmu ini.Mereka tidak memanjakan diri menjadi malas.Saya selitkan lagi kisah IBNU RUSYD yang hanya bercuti selama 2 hari sahaja sepanjang hidupnya sepenuhnya menumpukan pengajian dan pendidikan.Kemiskinan bukan penghalang segalannya,ianya telah di buktikan oleh L GHAZALI,SYAFIE,FAKRUDDIN ARRAZI malah kesemua itu di lalui penuh kesusahan.

SIKAP HORMAT DAN KRITIS

Sikap yang mesti ada pada setiap pencinta ilmu khususnya penggerak islam dalam pembinaan budaya ilmu dengan keberanian memahami ilmu dahulu dan semasa .Sikap ini telah di tunjukkan ARISTOTLE ketika berbeza ajaran daripada gurunya PLATO kerana mempunyai hujah yang baik(plato is dear to us but truth is dearer)
Saya melihat sikap ini makin terhakis mahupun sudah hilang pada ilmuwan-ilmuwan saat ini kerana tidak berani menyatakan pandangan dek kerana menjaga kehormatan.Pandangan saya itu silap malah menjadikan kita semakin hilang punca untuk berfikir.Saya melihat mereka lebih terikat pada semangat fanatisme atau kepartian.Contohilah keberanian IBNU KHALDUN dan contohilah kritikan cinta IMAM SYAFIE terhadap IMAM MALIK sehingga imam malik terpaksa mengurangkan sebahagian daripada MUWATTA.”Teguhilah dan kritiklah aku jika aku membuat kesilapan”Kata SYAFIE kepada imam-imam ketika itu.Sesungguhnya islam terbinanya bukannya mengikut ekslusivist tapi universal yang berperinsip.

Mungkin perkongsian santai ini dapat saya mengubah sedikit sebanyak persepsi golongan muda yang begitu cepat melatah dan tidak menghormati disiplin intelektual yang telah di gariskan.Selepas ini saya akan terus bersama berkongsi dan tidak sabar untuk membaca karya JOHN ESPOSITO berkaitan ancaman islam.SELAMAT MEMBACA:)

Mekanisme Dialog Peradaban

Dialog ini bertujuan untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih adil,lebih merdeka malah lebih manusiawi.Saya rasa cukup berat untuk membawa maksud pengertian mekanisme dialog sebuah peradaban ini jika memandang konflik peradaban yang berlaku ketika ini cukup sukar untuk memahami khususnya dunia hari ini.saya terus memaksa menelaah kitab yang sering di agung-agungkan tokoh-tokoh barat iaitu muqqaddimah ibnu khaldun bagi memahami konsep ketamadunan ini secara jelasnya.Memang berat penilitian kajian tamadun ini sehingga mencapai maksudnya.

Dialog boleh di ertikan sebagai suatu percubahan perbezaan pendapat antara dua pihak,kepercayaan atau pandangan untuk melakukan sesuatu aktiviti bagi mendapat kesefahamanan yang baik serterusnya dapat mewujudkan sikap saling memahani antara satu sama lain.Dialog juga di sebut dengan muzakarah,mujadalah bagi melengkapi benih-benih fikiran untuk di satukan mencapai kekuatan optimum penyelesaian.

Buruk yang terjadi dunia hari ini konsep tersebut tidak di capai sebaik-baiknya malah sebaliknya perpecahan yang berlaku.Konflik secara dalaman dan luaran semakin parah tercetusnya hingga belum suatu perancangan yang kokrit dan praktikal dalam menyelesaikan konflik ini.Seperti kata ALWI SHIHAB bahawa soal mana yang lebih benar dan salah bukan tujuan dialog.Itu semua urusan Allah.tetapi yang menjadi fokus dialog itu mencari TITIK TEMU.Jika titik temu tidak dapat di jumpai malah egoisme pendapat menjadi puncak segalanya tidak mustahil menjadi penyebab kehancuran.Sesungguhnya islam mengajar konsep menghormati antara yang lain serta agama lain.Sejarah menunjukkan bahawa nabi dan khalifah ryasidin tidak pernah menular agama selain islam apatah lagi menyuruh untuk menukar agama demi syarat untuk hidup bersama kaum muslimin.Nabi menerima kunjungan kristian dari najran.Nabi menyambut baik rombongan seramai 60 orang yang di pimpin ABDUL MASIH AL AYHAM dan ABU HARITHAH AL GAMA.Ini jelas menbuktikan bahawa islam tidak meminggir kaum-kaum yang lain selain islam.

Mungkin benar sekali IBNU RUMI mengatakan "memang aneh dunia ini,engkau menginginkan orang lain bersih sedang engkau sendiri tidak bersih" .Virus HEGEMONI KUFFAR sememangnya tidak akan terhenti malah di lebarkan skopnya sehingga kepada pengekspotan budaya,ekonomi,undang-undang dan pemikiran.Itulah yang membarahkan umat islam hari ini yang telah di peradabankan oleh virus ini sehingga mencapai tahap dominan ketika ini.Terbukti di dalam MUKADDIMAH IBNU KHALDUN apabila sesuatu kaum atau bangsa sudah hilang budaya jati diri dalam kehidupannya maka mereka terpaksa mengikut budaya jati diri yang lebih dominan ketika itu.Maka tidak hairanlah hari ini begitu parahnya ikutan liberalisasi,amerikanisasi yang kononnya menjadi pejuang keadilan sejagat melalui "new world order" cuba menjadi kuasa di muka bumi ini.

Saya melihat secara jelasnya di sini punca terjadi permasalahan ini berikutan suatu yang pernah berlaku abad Romawi di mana kaum intelektual dan keagamaan ketika itu cukup-cukup parah dari sudut penerimaan perbezaan,egoisme,fanatisme yang melampau serta penghayatan ketuhanan tidak di hayati langsung dengan menyamakan konsep ketuhanan sama seperti benda lain.Ketiadaan TTIK TEMU dalam pemasalahan ini yang mengakibatkan DIALOG semakin di tepikan.
Tegasnya bahawa dialog menuntut kedua-dua belah pihak memilih dan bekerjasama daripda berkonfrontasi serta salah menyalahkan.

Jelasnya wajibnya untuk kita mengambil inisiatif untuk merapatkan lagi jurang perbezaan agama,kaum,dan pendapat yang berbeza ini.Konsep LITAA'RUF saling kenal mengenali mestilah di praktikkan untuk kita bersama menangkis TEORI HUNTINGON ini melalui gagasannya CLASH OF CIVILIZATION.

Mekanisme peradaban ini perlu di bina segera.Mewujudkan simbiosis di anrtara peradaban merupakan langkah yang terbaik untuk membina kesepakatan yang sejagat.Kemunduran ummah tidak terjadi sekiranya kita tidak menjadi bangau kepada kuffar.Sekali lagi saya tegaskan bahawa konflik ini tidak akan terjadi sekiranya faktor ilmu yang mengawal pendirian dan pemikiran kita.Teruskan modal intelek,kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.Teruskan MENGKAJI dan BERFIKIR!!!

Segunung Harapan Seteguh Gagasan

Secara tulusnya saya mengatakan bahawa hari ini kita perlu belajar merangkak daripada sejarah.Berkacakan deretan peristiwa yang berlalu bukannya di biarkan berlalu begitu sahaja tanpa memikirkan secara komprehensif kesan saat ini.Sememangnya angin segar islam telah pun bertiup dengan sepoinya tetapi sayang tidak dikoordinasikan dengan baik.Itulah masalah saat ini.Tiada kesatuan menuju kesana malah masing-masing harakah mendepankan egoisme kelompok.Adakah ini watak asli atau warisan budaya kolonialisme di negara-negara islam hari ini.Memang benarlah kehancuran ini terkesan kepada umat islam hari ini yang merudum di bawah permainan zionis.

Sejarah membuktikan keterburukkan islam tidak berlarutan seperti saat ini bagaimana islam terus bangkit selepas abbasiyyah di jatuhkan pasukan Tartar dengan mendirikan terus segera khilafah islam yang baru di turki iaitu turki uthmaniyyah adalah kerana berpegangnya kepada quran dan sunnah Rasulullah.Berbeza hari ini konsumsi doktrin-doktrin barat terus saat ini.
Kita di bodohkan hari ini dengan permainan jarum yahudi yang tidak pernah henti setiap saat memikirkan kehancuran islam

Sistem kapatalisme,sosialisme,nasionalisme,chaunisme yang melampau hari ini yang tidak bertunjangkan islam serta pemimpin penguasa ala-ala Zaman Romawi abad ke-6 hari ni jelas menunjukkan umat islam perlu sedar dan bangun daripada penindasan jahiliyyah ini.EDWARD GIBBON pernah berkata dalam bukunya bahawa mesir abad ke 7 telah menjadi negara yang sengsara kerana banyak pertikaian agama dan penindasan penguasa.Materialitisme dan nasionalisme yang menyempang jauh daripada akidah menjadi budaya golongan penguasa ketika itu.

Di sini gagasan saya lebih kepada memikirkan bagaimana mencapai golongan QURANIK,ENSIKLOPEDIK,IJTIHADIK yang membawa maksud seluruhnya golongan membaca,memahami,menghafaz al-quran serta berakhlakkan quran.Golongan yang hebat dalam pelbagai ilmu dan kemahiran yang semestinya kreaif dan mampu mengubah ummah.Sesungguhnya barat sebenarnya terkenal dengan kebodohan yang amat nyata suatu ketika sentiasa mengambil segala bentuk keilmuan islam tetapi kebodohan barat ketika itu telah di terjemahkan umat islam hari ini yang tidak pernah berusaha menghakis kejahiliyyah pada diri.

DI sini juga bagaimana melahirkan golongan yang berani seperti ulama suatu ketika yang berani menentang kaum TARTAR yang di pimpin HULAKO ketika menakluk baghdad yang telah megemukan perlembagaan yasik iaitu ajaran yang mencampurkan islam dengan agama kristian dan akal fikiran mereka.

Golongam muda ataupun mahasiswa hari ini sememangnya sudahpun terpesong yang asyik membudayakan MATERIALISME.Pencapaian dunia adalah segalanya sehingga tidak sedar telah menghitamkan dunia.Di mana tanggungjawab bersama terhadap umat islam?
Saya terus mengkritik golongan burung kakak tua di kampus saya sendiri yang merealisasikan kata-kata MOCHE DAYAN iaitu panglima perang israil menyatakan bahawa kelemahan umat islam adalah umatnya yang malas membaca,mengkaji sejarah.Kakak tua ini selalu menyebut JILUN QURANIYUN FARID padahal suatu kalimat yang begitu berat untuk di ungkapkan tanpa di praktikkan.Sesungguhnya SYED QUTB dalam MAA'LIM FITTARIQ jelaskan bahawa
generasi yang faham agama dan tidak tenggelam dengan arus kemodenan.Ianya di bimbing oleh nilai akhlak quran itu sendiri.

Segunung harapan seteguh gagasan untuk terus merealisasikan'jilun quraniyun farid,jilun nasr,Rausyafikir,generasi intelektual.

PERBEZAAN


Mallek Bennabi tokoh penulis islam abad ke-2o berpandangan bahawa umat islam kini lemah kerana malasnya berfikir di sebabkan terlalu hedomistik..

Di dalam hadis yang di sebutkan dalam AS-Sayuti di dalam al-jami'ush shaghir bermaksud bahawa "PERBEDAAN UMATKU ADALAH RAHMAT"

Hari ini sesungguhnya musuh islam itu sentiasa memerhatikan dan melakukan pelbagai kospirasi terhadap islam dari setiap segenap sudut menunggu kelalaian umat islam kian hari di lalaikan dengan serangan pemikiran yang membawa jatuhnya islam hari ini.Tetapi sejujurnya penulis menjelasnya ianya sangat memedihkan apabila musuh itu datang dari dalam tubuh kebangkitan islam itu sendiri.Sesengguhnya penulis tidak kisah jika kebangkitan islam yang masing-masing memiliki manhaj tersendiri dalam berjuang menegakkan islam di muka bumi yang sesuai dengan penemuan sasaran,skala prioritas dan tahapanya.Tidak menjadi masalah adanya beberapa kelompok jemaah yang berjuang untuk menegakkan islam apabila ianya merupakan TA'ADDUDU TANNAWWUN dan bukanya TA'ADDUDU TA'ARUDH.

Malangnya sekali apabila da'ie ataupun aktivis islam yang tidak menghargai masalah ini dan menyebarkan benih-benih PERPECAHAN di mana sahaja.Mereka sentiasa menyalakan api perselisihan dan perpecahan.Ianya sentiasa tertuju pada titik perpecahan dan bukanya titik persatuan.Mereka tidak akan berlapang dada atau menerima jemaah selain jemaahnya yang betul.

Tidak mustahil jika penulis mengatakan bahawa inilah punca jatuhnya islam apabila segala perbedaan tidak dapat di satukan dendan tidak mengiktirf pada pandangan yang kedua.Masalah tidak dapat menerima dan tidak memberi ruang pandangan kedua ini dalam sesuatu ikhtilaf adalah jalan menuju kepada kejumudan.

Benar sekali realiti jemaah kampus hari ini begitu di belenggu kejumudan dalam konsep ilmu,politik,pentadbiran ataupun segala urusan.Mungkin benar kita di lalaikan dengan sentimen yang sempit dalam mendoktrinkan semangat kepartian,jemaah,fikrah yang merupakan kadangkala kelemahan umat islam hari ini dan puca kejatuhan eropah pada ketika dahulu di sebabkan kerana ahli gereja yang di belenggu kejumudan.

Perbedaan yang di sebabkan oleh faktor akhlak dan pemikiran
-faktor akhlak seperti membanggakan diri dan pendapatnya
-buruk sangka dan mudah menuduh orang lain
-egoisme mengikut hawa nafsu
-fanatik kepada pendapat kumpulan(jemaah)

Faktor pemikiran berbeza dari sudut pandangan suatu masalah yang tidak menerima pandangan kedua dalam masalah alamiyah atau amaliyah.Sesungguhnya perbedaan dalam pendapat ini telah pun di kisahkan ketika zaman sahabat contoh kita melihat keterbukaan hati dalam menerima pandangan dan pendapat seseorang yang di tunjukkan seperti berbezanya pandangan ibnu umar dan ibnu abbas.Sifat terbukanya imam abu hanufah dan syafie dalam menerima maliki.Kenapa hari para kita tidak mengambil contoh dan akhlak yang di tunjukan ulama kita dahulu kala?

Sedang kita dalam tidak pernah habis berbalah tentang masalah furu' dalam musuh islam tengah berfikir menjatuhkan islam.Mungkin kita selalu memikirkan perkara furu' sehingga kita lupakan agenda sebenarnya.Dan itu puncanya kita tidak dapat berfikir secara kritikal dek hanya menumpukan furu sahaja.

Begitu penting penulis memikirkan bahawa budaya berlapang dada mesti di semaikan di kalangan jik supaya kita tidak menjadi sebahagian faktor lambatnya islam hari ini.Penulis sekali lagi pernah menyarankan pada jik dalam artikel IQRA bahasanya budaya ilmu mesti di jadikan kewajipan setiap ahli supaya kita tidak bisa kebelakang dalam menepis pergolakkan kehancuran ketika ini.

sony playstation 3 or E-dakwah?


Ada apa pada playstation 3?..satu teknologi keluaran sony yang paling di gilai setiap lapisan umur termasuk penulis sendiri.Permainan video sistem tecno yang menggunakan blue ray ni berjaya menarik khususnya remaja hatta sanggup beratur panjang berebut untuk mendapatkannya....
Adakah ps3 ni hanya mampu membuatkan sang pemain ni berada di alam fantasi semata-mata sehingga kepada melalaikan?...memang inilah yang akan berlaku kepada sang pemain jika tidak mengawalnya.Bolehkah konsul ni memberi manfaat sebaik-baiknya kepada sang pemain itu sendiri malah boleh di jadikan sebagai medium dakwah?..mungkin ini adalah propaganda yahudi untuk menjatuhkan remaja islam?
sesungguhnya medium dakwah itu sungguhlah luas hingga dapat mencecah alam maya.seperti sebuah program penampil Al Qur'an kedalam sebuah Playstation Portable. Hal ini cukup membuat terobosan karena dengan ini berarti bahwa Handheld game sekalipun bisa menjadi sarana dakwah untuk orang lain.
penulis teringat pertemuan dengan seorang mak cik yang menyatakan hasratnya untuk menjadikan anaknya seorang yang hebat dan pastinya tidak mahu melihat anak itu kepada kesesatan.apa yang merisaukan makcik apabila anaknya menjadi bermasalah gara-gara tidak menyempurnakan hasrat anak itu untuk mendapatkan alat permainan video game...
penulis meminta makcik supaya menunaikan hajat anak itu kerana bimbang anak itu pastinya akan mencarinya di luar.bermula hanya di cyber cafe akhirya terjebak pelbagai masalah sosial...kerana kajian membuktikan anak -anak lebih terkawal dengan didikan ibu bapa yang tidak mengokong asalkan tidak melanggar syariat.
Dakwah dalam Islam berarti mengajak seseorang atau kelompok dari tidak tahu Islam menjadi tahu, dari yang anti Islam menjadi pendukung Islam, dari yang bukan muslim menjadi seorang muslim. Dan cara kita berdakwah juga telah diajarkan yaitu menggunakan hikmah dan kata-kata yang baik, sedangkan tekniknya kita sesuaikan. Dengan mengambil konsep dakwah yang telah digariskan Rasulullah sekaligus nilai-nilai positif dari perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi maka dari sinilah tercetus kata-kata e-dakwah.
E-dakwah ini sendiri akan terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu, teknologi dan pengetahuan manusia, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan dakwah Islam kepada manusia, seiring dengan pertumbuhan manusia itu yang semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhan Islam itu sendiri.
Allah tidak tengok hasil dakwah kita macammana tapi Allah tengok usaha dakwah kita.